π™€π™π˜Όπ™‰π™‚π˜Όπ™‰ π™„π˜½π™ π™†π™Šπ™Žπ™

Oleh : Ando Lan


Terus terang yang membuat aku betah ngekost berlama-lama di Kost-kost-an itu adalah Bu Roza, ownernya. Karna Mamah muda itu emang genit sejak pertama aku ngekost disana. Orangnya cantik, putih, dan selalu berpakaian sexy.

Bu Roza selalu senyam senyum ketika melihatku. Dan pastinya dia akan nyapa-nyapa kalau aku keluar masuk kamarku. Bu Roza begitu baik samaku, sehingga bisa dibilang akulah anak kost yang paling disukainya. Dia perhatian banget samaku dan sering ngantar makanan ke kamarku.

Aku biasanya kalau dikost hanya mengenakan boxer celcius kesukaanku dengan bertelanjang dada tanpa singlet. Ibu kostku sering nyamperin aku kedepan pintu untuk sekedar curhat soal anaknya dan lain-lain. Aku sering memperhatikan mata Bu Roza yang berlama-lama memperhatikan tubuhku.

Tanpa malu dan sungkan, dia terus memandangi tubuhku sambil bercerita. Bahkan selangkanganku juga diihatinnya. Aku pun jadi segan dan merasa gak enak hati ketika dia menatap lama-lama jendolanku yang hanya mengenakan celana boxer itu. Apalagi aku sering gak mengenakan CD didalam, sehingga anuku nampak ngejendol.

Aku tau Bu Roza suka samaku. Tapi aku gak bakal mau godain dia. Dia kan istri orang, dan aku gak pernah sejarahnya gangguin bini orang. Aku mah gitu orangnya. Kalau boleh jujur, aku juga suka sama Bu Roza. Namun suka secara biasa aja. Selaku pria normal, wajar aja aku suka melihatnya. Namun hanya sebatas suka begitu aja tanpa ada niat untuk icip-icip.

Namun aku gak menampik, apabila suatu saat nanti Ibu Roza merayuku, aku akan mau menyambut rayuannya. Itu sangat mungkin! Kalau dia yang duluan merayuku, aku bisa aja menuruti permainannya. Hitung-hitung have fun aja, kecuali orangnya gak tipe aku, ya pasti kutolaklah.

Suatu saat aku rebahan diatas kasur mainin gadget aku dengan pintu terbuka. Tapi ternyata aku jadi tertidur pules. Aku hanya mengenakan celana dalam merk Durban. Ternyata tanpa kusadari Bu Roza udah berada didepan pintu. Aku gak tau apa dia udah lama memanggilku, karna aku gak dengar.

Tapi akhirnya aku mendengar suara-suara memanggilku. Akhirnya aku pun terbangun dan melihat Ibu Roza sedang berdiri didepan pintu. Dia tersenyum menatapku yang masih posisi telentang dengan kedua kaki melebar itu.

"Enak tidurnya, Amir!", ucapnya.

Aku masih berasa linglung dan belum ngeh dengan keadaan. Maklumlah orang baru bangun tidur.

"Bu!", ucapku sambil menggeliat.

Aku menatap Mamah muda itu sejenak, lalu aku pun berusaha bangkit dan terduduk. Disitulah aku sadar bahwa aku pake CD doang. Aku pun auto kebingungan dan merasa malu dengan Ibu kostku. Tapi Ibu kostku justru santuy aja sambil senyam senyum memperhatikan aku.

Maaf, Bu....! Aku pake celana dulu!", ucapku.

Aku merapatkan kedua pahaku menutupi selangkanganku disusul kedua tanganku yang auto menutupi auratku. Tapi Ibu Roza malah mandangi terus tanpa merasa segan dan malu. Ya Olloh, apa-apaan sih nih Bu Kost! Gumanku dalam hati. Dia benar-benar seperti menyukai pemandangan didepannya.

Aku pun memberanikan diri berdiri dan meraih celana jeans merk posh boy yang tergandung di dinding. Aku segera masuk bathroom untuk memasang celanaku. Lalu kuraih t-shirtku yang kuletak diatas meja dan kukenakan. Aku pun menemui Bu Roza kepintu.

"Ada apa, Bu?", tanyaku.

"Ada lontong sayur dirumah, Mir? Mau kan, biar Ibu ambilkan!", ucapnya.

"Hehe... ntar aja, Bu! Biar Amir aja yang jemput!", ucapku.

Jujur aja aku sih udah laper, karna ini udah saatnya makan siang tapi aku baru aja bangun. Tapi bukannya pergi ngambilin lontong, si Mamah muda malah duduk dibangku yang berada diteras.

"Udah lama ya, Bu?", tanyaku.

"Udah!", ucapnya dengan senyum.

Astaghfirullah... udah lama!, gumanku.

"Jadi Ibu udah lama?", tanyaku memperjelas.

"Iya, Mir! Cuma kamu gak denger Ibu panggil-panggil. Makanya Ibu tungguin aja dan Ibu panggilin terus.", ucapnya.

Berarti Ibu kost udah dari tadi mandangin anuku! Gumanku dalam hati.

"Udah lama tidurnya, ya? Sampai gak denger gitu!", ucapnya.

"Iya, Bu. Tadi malem aku telat tidurnya, udah jam 4 pulangnya.", ucapku.

"Bentar ya, Mir. Ibu ambilin lontongnya!", ucapnya sambil berdiri.

Dia pun berjalan menuju pintu belakang rumahnya dan bergegas masuk kedalam.

"Taraa... ini dia lontong buatan Ibu!", ucapnya sambil meletakkan kemasan tupperware itu dimeja samping tempat duduk kami.

"Makanlah, Mir... kamu pasti udah laper!", ucapnya.

"Iya, Bu. Tapi ntar aku jadi gak makan nasi lagi!", ucapku.

"Gak papa! Ini kan nasi juga!", ucapnya.

Lalu Ibu Kost masuk kedalam ngambilin piring dan air minum. Dituangnya lontong itu ke piring dan mempersilakan aku menyantapnya. Aku pun auto melahap hidangan yang tersedia didepanku itu.

"Enak banget ya, Bu! Amir suka!", ucapku memuji.

"Hehe.. iya, Mir!", ucapnya.

Disaat aku menikmati santapan itu, Bu Roza selalu aja memperhatikanku dari memasuklan kemulut, mengunyah, hingga menelan.

"Cara makan kamu keren banget!", ucapnya.

Masya Allah, Bu... ada-ada aja. Masa' cara makan juga pake keren segala! Gumanku dalam hati.

Selesai makan, Bu Roza gercep bawain oiring bekas aku makan kedalam dan menaruhnya di wastafel. Lalu dia kembali duduk diluar bareng aku.

"Bapack mana, Bu?", tanyaku.

"Napa nanya Bapak, Mir?", tanyanya balik.

"Kangen, Bu!", ucapku kesel.

Ku tatap wajahnya setelah bilang gitu tanpa senyum sedikit pun.

"Ada-ada aja Ibu ini, orang nanya Bapack aja, kok malah ditanya kenapa. Emang gak boleh ditanya Bapack kemana?", ucapku.

"Mau kerumah? Boleh kok. Bapack lagi gak ada. πŸ˜‚", ucapnya.

"Ya Olloh, Bu. Aku nanya aja lho, Bu. Bukan maj yang aneh-aneh!", ucapku.

"Ibu cuma bantu jawab kamu, kok! πŸ˜†", ucapnya.

"Emang kenapa Bu kalau aku mau kerumah pas ada Bapack?", tanyaku.

"Ya, gapapa. Pas gak ada Bapack juga gak papa. 😊", ucapnya.

"Janganlah, Bu. Ntar jadi lain pula tanggapan orang!", ucapku.

"Gak papa, kok. Kan kamu anak kostku. Jadi wajar aja kamu masuk kerumahku. Emang kalaj kubantu nyetel channel TV, AC, atau geserin lemari, kamu gak mau?", ucapnya.

Aku diam gak menyahut Ibu kostku itu. Aduh, kegatelan banget sih nih Mamah muda. Gumanku dalam hati.

Begitulah sampai hari-hari berikutnya. Aku pun jadi sengaja tiduran hanya pake CD. Bukan bermaksud memancing Ibu Roza, tapi biar dia kapok dan malu datang-datang ke kamarku. Aku pikir kalau kedepannya aku sering-sering pake CD doang, dia akan segan dan sungkan datang-datang. Aku pun santuy aja tidur pake CD dikamarku. Gak taulah apa dia masih datang, soalnya gak pernah terdengar dia memanggil.

Lalu satu saat, ketika aku tengah tidur nyenyak, aku merasa ada sesuatu yang menyentuh di wajahku, aku pun secara refleks meraba dan menggaruk wajahku dalam keadaan tidur. Lalu aku merasa ada sesuatu yang geli disekitar dada sampai perutku. Aku mengiranya adalah semut atau serangga lainnya yang menjalari tubuhku. Aku pun auto menghempas dan menggaruk bagian itu.

Masih dalam kondisi tertidur, aku makin merasa semut itu menjalar sampai ke pahaku dan juga selangkanganku. Tanganku pun auto refleks menggaruk bagian itu. Tapi makin jelas kurasakan sentuhan itu. Akhirnya aku terjaga dari tidur siangku. Alangkah kagetnya aku ketika melihat disampingku udah ada Bu Roza, Ibu kostku.

Dia udah duduk lesehan disampingku. Dan ketika aku terjaga itu, dia kaget dan segera menarik tangannya dari tubuhku. Nampak jelas wajah-wajah kaget dan gugup diwajahnya. Dia merasa tersipu malu karna tercyduk lagi grepein bagian sensitif ditubuhku.

"Ibu...!", ucapku kaget.

"Maafkan Ibu, Mir.", ucapnya.

"Ibu ngapain?", tanyaku.

"Ibu pengen ditemenin, Mir!", ucapnya.

"Ntar kalau anak kost sebelah liat gimana dong, Bu?", tanyaku.

"Tenang aja. Dia masih belum pulang!", ucapnya.

Aku merasa tindakan Ibu kostku udah tergolong berani dan nekat. Akhirnya aku pun gak mau berlama-lama lagi atau terkesan jual-jual mahal lagi. Aku langsung memutuskan dalam hati akan mengikuti arus permainan Mamah muda itu. Kalau kau yang mancing akan kuladeni! Gumanku.

Aku yang masih hanya mengenakan CD itu akhirnya terduduk. Aku gak kayak ssbelumnya segera kabur dan pake baju. Aku biarkan aja apa yang akan Bu Roza perbuat selanjutnya. Apakah dia akan berani grepe aku lagi kayak waktu tidur tadi? Ku garuk selangkanganku meskipun gak gatal. Itu sengaja kulakukan untuk melihag reaksi Ibu kostku. Ternyata dia auto memperhatikan garukanku.

"Gatel ya, Mir?", tanyanya.
Iya, Bu. Kalau gak gatel ngapain digaruk?", ucapku.

"Ya, siapa tau mancing-mancing Ibu. 😊", ucapnya.

"Sorry ya, Bu!", ucapku.

"Ibu jangan dipancing-pancing, Mir. Ibu gak taha  liat kegantengan kamu!", ucapnya.

"Ibu suka Amir, ya?", tanyaku.

"Iya, Mir. Banget!!!, jawabnya.

"Amir gak pernah mancing-mancing Ibu. Tapi Ibu lah yang mancing-mancing Amir!", ucapku.

"Ibu terlanjur suka samamu, Mir!", ujarnya.

"Jadi apa yang Ibu mau?", tanyaku.

"Ibu pengen sentuhanmu!", ujarnya manja.

"Jangan dijebak aku ya, Bu.", ucapku.

"Ibu gak menjebak lho, Mir. Ibu serius suka sama Amir. Udah lama Ibu mengimpikan Amir!", ucapnya.

"Mau kan, Mir. Tolong Ibu, Mir. Ibu haus ssntuhan laki-laki!", rayunya.

"Tapi gimana kalau ketauan sama Bapack, Bu?", tanyaku.

"Jangan ketauanlah, Mir!", ucapnya.

Aku pun diam sejenak. Didekatkannya duduknya ke aku dan dirapatkannya kedua telapak tangannya dibahuku. Lalu dia menumpukan dagunya disana. Kami udah kayak pasutri yang lagi bermesraan.

"Mau ya, Mir. Kasih Ibu kenikmatan. Ntar kamu gak usah deh bayar kost lagi. Ibu gratiskan kamu disini!", ucapnya.

"Mau aja sih, Bu. Tapi jangan sampai ada yang tau hubungan kita!", ucapku.

"Ibu juga gak pengen, Mir.", ucapnya.

"Pokoknya semua anak kost disini gak perlu tau, Bu. Apalagi Bapack dan anak-anak Ibu.", ucapku.

"Ok deh, Mir. Ibu seneng banget kamu ngertiin Ibu. Bapack udah sering diluar kota Mir. Dia juga punya selingkuhan.", curhatnya.

Akhirnya aku menoleh kewajahnya, lalu mata kami pun saling menatap. Ku rapatkan wajahku makin mendekatinya dan ku kecuplah bibirnya. Ibu Roza auto memejamkan matanya ketika bibirnya kukecup sekali. Lanjut lagi, aku menempelkan wajahku diwajahnya. Kuciumi dia terus menerus.

"Cium adek bang...!", ucapnya manja.

Kali ini Ibu Roza langsung manggil Abang ke aki, dan dia udah meng-adekkan diri.

Ku cumbu bibirnya berkali-kali, lalu kulumat bibirnya. Mamah muda itu pun mendesah ketika bibirku dan bibirnya saling melumat. Kujulurkan lidahku kedalam mulutnya, sehingga dia langsung paham dan segera membukakan mulutnya.

Kini lidah kami pun saling bersentuhan. Ku gerakkan terus lidahku disana. Kusedot lidahnya keluar dan terus kugulung. Erangan demi erangan pun kian bersahutan didalam kamar yang gak tertutup itu. Kami memang tau kondisi di jam itu, dimana semua anak-anak kost lagi para kerja.

Ketika bercip0kan, tanganku juga sedang meraba-raba kedua buah dadanya. Semua ku remas sampai perut dan selangkangannya. Ibu kostku pun auto mengerang ketika jemariku memainkan selangkangannya. Tanpa kusuruh, tangan Bu Roza juga auto memegangi batangku yang udah ngaceng itu. Tanpa segan dia langsung memasukkan tangannya lewat atas, yaitu lewat karet dipinggangnya.

Kami menghentikan cip0kan itu. Bu Roza langsung menunduk menciumi perut dan selangkanganku. Dia berusaha mengeluarkan batangku dari atas. Lalu aku pun langsung membantu menurunkan boxer itu hingga pergelangan kakiku.

Bu Roza pun terbelalak memandangi batangku yang lumayan gede itu. Dia mencermatinya sebelum akhirnya mem-blow jobnya. Awalnya dia mencium-cium dari kepalanya hingga bijinya.

"Adek suka aromanya, sayang!", ucapnya.

Lalu Bu Roza mengeluarkan lidahnya perlahan dan menjilati kepala dan batangku bak menikmati eskrim tangkai. Lalu berlanjut lagi, Bu Roza mengulum batangku dari kepala hingga pangkal. Dia pun menaik turunkan kepalanya berkali-kali. Aku pun membelai rambutnya dan mengusap-usap punggungnya.

Setelah Mamah muda itu merasa cukup mem-BJ punyaku, dia pun menatap wajahku. Lalu aku membukai bajunya dan mengeluarkan kedua buah dadanya. Aku langsung ngiler dan membantai kedua buah itu dengan lahapnya. Alhasil Bu Roza pun menggelinjang kubuat bak cacing kepanasan di tengah-tengah halaman.

Gak cukup sampai disitu, aku menyuruh dia berdiri dan segera ku pelorotkan celananya. Kini Bu Roza telanj4ng dihadapanku. Apem hangatnya kini dapat kulihat dengan jelas. Aku pun auto memainkan jemariku disana.

"Tunggu, aku nutup pintu dulu!", ucapnya.

Kulepasin dia sebentar dan kubiarkan dia berjalan menuju pintu. Pintu pun tertutup. Lalu dia kembali mendekatiku dan menyodorkan apem hangatnya ke mulutku. Kusuruh dia berdiri dengan merenggangkan pahanya, sehingga aku bisa mengusup ke selangkangannya.

Awalnya aku menggesek-gesekkan mukaku di apem hangatnya. Lalu kuendus aromanya dan terus ku ciumi apem hangat itu. Lalu aku pun langsung merimming belahannya. Owwhhh.... nikmatnyaaa... aku makin beringas merimming apem hangat Ibu kostku. Dia pun gak kuasa menahan permainan lidahku disana.

Mamah muda itu langsung naik ke springbed dan rebahan. Aku pun langsung menindihnya dari atas. Kami kembali cip0kan dan kugigiti kedua buah dadanya. Menurun terus kebawah hingga berhenti di apem hangatnya. Lidahku sangat piawai menari-nari di apem hangat milik Bu kostku itu. Bahkan jari telunjukku juga ku masukin kedalam. Alhasil Mamah muda itu pun mengerang dan menggelinjang kubuat.

"Kita masukkanlah?", tanyaku.

"Iya! Masukkaah sayang!", bisiknya.

Aku pun mengarahkan kepala tytydku ke lobangnya dengan sedikit menekan kedalam. Lalu sat set sat set batangku pun kini udah berada didalam terowongan itu. Masih berasa banget gigitannya. Aku pun mendesah menikmati apem hangat Bu kostku. Dan Bu kostku juga sangat menikmati hujaman senjataku di terowongan miliknya.

"Sayang....!", ucapnya berkali-kali.

Kami pun mencoba beberapa style bercinta. Dan berkali-kali pula Bu Roza memuji kehebatanku. Dia bilang puas banget. Dia juga berkali-kali mengucapkan kata-kata cinta padaku.

"Bang... kamu mau ya, kita ginian terus. Adek gak mau kalau cuma sekali ini doang. Adek mau kita lanjut terus!", pintanya.

"Iya, tenang aja sayang!", ucapku.

Kali pertama mulutku mengeluarkan kata-kata sayang ke Mamah muda itu.

Lalu setelah berlama-lama menjelajahi terowongannya, si joniku pun hendak muntah. Itu kusampaikan ke Bu Roza. Dan dia gak mempermasalahkan kalau itu terjadi.

"Sayang... aku udah mau keluar!"

"Gak papa, sayang keluarkan aja!"

"Aaaahhhh.... arrrgggghhhhh!!"

"Keluarkan aja sayang! Aaahhhhh! Aahhh!!!"

"Didalam?"

"Jangan. Cabut aja!"

"Aaahhhh.... aaaahhhh..... aaaaaahhhhhh!!!"

Aku pun sat set sat set nyabut joniku dan menumpahkan airku tepat dibibir punyanya. Kusapukan semua diantara labia mayora dan j3mbutnya. Aku memegangi batang joniku dsn mengoleskan kepalanya menyapu ratakan lelehan p3juhku disana.

"Enak banget sayang.....!", ucapnya.

Kami pun kini udah sama-sama puas. Dan kamar kostku lah jadi saksi bisu pertama skandalku dengan Ibu kostku sendiri. Ke depannya masih akan berlanjut terus skandal kami ini.

Setelah kami duduk sejenak dalam kondisi tel4njang, kami sepakat mandi. Kami membasuh tubuh kami dengan shower panas dikamarku. Lalu Bu Roza menghidangkan gelas minuman hangat untuk kami. Semua diolah dari stok dikulkasku. Setelah selesai minum, Bu Roza pamit masuk kerumahnya.

Selesai


Komentar

Postingan populer dari blog ini

π™†π™€π™‰π˜Όπ™‹π˜Ό π™‡π™€π™ƒπ™€π™π™‰π™”π˜Ό π˜½π™€π™‚π™„π™π™?

TERNYATA ISTRIKU SELINGKUH DENGAN BAINAR

AKU SENGAJA PULANG KERUMAH PADA SAAT JAM KERJA