πππΏππππ πππΌπ-πππΌπ π½πΌππ-π½πΌππ
Penulis : Ando Lan
Entah mengapa aku lebih horni liat emak-emak umur 40-an ketimbang gadis belia.
Upppsss.... π€
Tapi emak-emak bukan sembarang emak-emak, ya.
Doi harus yang cantik, putih, glowing, kurus atau gemuk gak masalah.
Aku paling gak nahan liat emak-emak yang pake rok.
Liat betis mulusnya aja aku langsung horni. Jadi langsung ngebayangin deh gimana mulusnya tuh paha.
----------------------------------------------------------------------
FYI, dulu waktu SMP dan SMA, banyak Guru-Guruku yang jadi khayalanku colayyy.
Karna aku sama temen-temen aku sering banget liatin paha mulus plus celana dalam Guru-Guru kami yang gak ngerti duduk yang bagus.
Mereka yang duduk ngangkang seenaknya jadi sasaran empuk mata-mata liar kami dari tempat duduk masing-masing.
Guru-Guru itu gak nyadar kalau celana dalamnya terpampang nyata dari bawah kolong meja.
Kalau dipikir-pikir kok bisa sih anak SMP horni liat Bu Guru yang saat itu udah pasti menginjak kepala 4.
Tapi itulah kenyataannya guys. Itu merupakan sebuah fakta yang gak terbantahkan.
Jadi gitulah berlanjut terus sampai aku makin dewasa dan mateng. Aku tuh jadi suka sama buibu atau emak-emak usia segitu.
Mungkin bagi sebagian dari anda akan merasa ini konyol. Terutama anda-anda yang gak punya rasa sama sekali ke buibu.
Tapi aku mau jujur aja ceritain itu tanpa perlu merasa gengsi. Toh, aku juga masih normal kan.
Kan buibu juga perempuan. Wkwkwk...
Oh ya, waktu kelas 5 dan 6 SD juga aku udah pandai ngintip celana dalam Guru kelas kami. Dan satu hal yang pasti, aku dimasa itu juga udah horni liat Guru itu. Padahal aku masih anak-anak lho. Hihi... π€
Waktu aku kerja juga, aku punya bos yang super cuantik. Doi merupakan keturunan tionghoa. Udah pasti dong putih mulus ya guys.
Jadi aku sering banget ngebayangin doi.
Tapi sebatas ngebayangin aja sih, gak pernah bisa icip-icip.
---------------------------------------------------------------------
Sekarang langsung aja ya guys, aku bakal ceritain kisahku dengan Bu Vera, seorang pemilik Minimarket di kotaku.
Jadi aku dan Bu Vera udah kenal sejak 3 taun yang lalu. Kami nampak kompak. Bu Vera orangnya baik, sopan, dan benar orangnya. Suaminya seorang Guru SD.
Tapi saking sukanya aku ke Bu Vera, sehingga aku gak bisa lagi membendung rasa penasaranku dengan tubuhnya.
Akhirnya aku pun merayu dan membujuk Bu Vera untuk melakukan hal yang gak bener.
Awalnya Bu Vera menolak dengan berbagai alasan.
Aku maklum dan itu bisa ku terima. Karna Bu Vera adalah orang baik-baik dan orang bener. Gak mungkin segampang itu dia mau termakan bujuk rayuku.
Tapi aku tetap gigih dan berusaha untuk bisa icip-icip tubuh mulusnya Bu Vera. Aku gak bisa lagi menahan laju nafsuku untuk menikmati keindahan tubuhnya.
Gak usah deh ku ceritain langkah-langkah apa yang kulakukan untuk menundukkan Bu Vera. Yang jelas gak mudah dan butuh waktu sekian lama juga.
Aku liat hubungan s3ksual Bu Vera dengan Pak Adnan, suaminya udah gak kayak dulu lagi. Maklum ketika itu usia Pak Adnan udah 53 th, dan Bu Vera 43 th.
Aku pun masuk ke dalam kehidupan Bu Vera tanpa merusak sedikit pun hubungan rumah tangga mereka.
Aku juga gak pengen rumah tangga mereka rusak gara-gara aku. Karna yang kucari hanyalah kepuasan s3ksual belaka. Bukan harta atau apapun itu.
Kebaikan Bu Vera yang udah menganggapku sebagai sahabat baiknya, membuatku justru lebih berani mengungkapkan keinginanku.
Aku malah berani memuji-muji keindahan tubuhnya dan ngebayangin bercinta dengan dia.
Aku sering menyinggung soal hubungan suami istri mereka dirumah. Tapi dia bilang di usianya yang segitu, s3ks bukan lagi hal yang utama bagi mereka.
Padahal menurut logikaku, Ibu-Ibu 43 th masih kuat-kuatnya nges3ks. Begitu juga Bapak-Bapak 53 tahun, masih kuatlah sehari sekali.
Tapi Bu Vera mengakui, akhir-akhir ini mereka udah jarang banget nges3ks. Bisa di bilang sebulan sekali aja belum tentu.
Aku pun kaget mendengarnya. Aku bilang itu sangat di sayangkan. Padahal Bu Vera masih bisa dipuasin. Demikian ungkapku.
"Bapak juga udah gak kuat! Ibu juga udah sering males!", ucap Bu Vera menerangkan.
"Aku mau puasin Ibu!", demikian ucapku.
-----------------------------------------------------------------
Bu Vera pun jatuh ke pelukan aku. Doi akhirnya luluh juga dengan rayuan mautku. Aku pun memanfaatkan kesempatan emas itu semaksimal mungkin.
Suatu ketika, sepakatlah kami jalan-jalan bareng ke suatu tempat. Kami pun melaju menuju sebuah hotel.
Aku pede aja check in dengan seorang buibu. Masa bodoh ah dengan para petugas hotel. Urusan mereka juga apa? Kan mereka cuma butuh duit aja.
Tiba di kamar hotel, aku langsung peluk Bu Vera dalam posisi berdiri dilantai. Lalu ku ciumi kedua pipinya bertubi-tubi. Setelah itu ku c1pok bibirnya. Dia pun pasrah dan lama-lama akhirnya membalas permainan bibirku itu.
Bu Vera gak pinter c1pokan. Maklumlah, katanya dirumah mereka gak pernah c1pokan. Agak aneh ya guys, masa' suami istri gak pernah berc1pok. Jadi cuma ngapain aja?
Akhirnya akulah yang ngajari Bu Vera c1pokan. Yang awalnya dia kurang suka, akhirnya jadi suka dan ketagihan.
Ku raba payud4ra Bu Vera dan terus ku remas dengan kedua tanganku.
Dengan kesabaran yang udah habis, ku lucuti pakaiannya hingga kedua payud4ranya berhasil ku lihat dengan jelas dengan mata kepalaku sendiri.
Lalu dengan sigap ku isap kedua put1ngnya secara gantian dengan isapan yang kuat-kuat karna nafsuku udah sangat memburu.
Isapanku di teteknya akhirnya berhasil membuat Bu Vera meringis gak henti. Dia meronta ketika gigiku terus menggerogoti kedua put1ngnya.
Lalu ku jilatilah perutnya dan ku remas-remas pant4tnya. Ku tuntun dia naik ke atas springbed lalu ku tidurkan dia disana. Ku lepasin roknya sehingga hanya celana dalamnya kini yang tersisa di tubuhnya.
Ya owloh, mataku gak brenti berkedip menikmati keindahan tubuh Bu Vera yang mulus. Aku pun menelan ludah saking ngilernya.
Ku jilati kedua paha Bu Vera, dari lutut hingga selangkangannya. Jilatan itu terkadang ku ganti dengan gigitan-gigitan yang kuat. Sontak Bu Vera pun menggelinjang dan berteriak.
"Ohhh..... Ahh..... Aduuuhhh.... sakit."
Ku ciumi gundukan kecil berbalut kain CD di selangkangannya. Lalu aku kembali menjilati pahanya hingga lutut. Lalu turun sampai betisnya. Kakinya memang putih bagaikan kapas. Makanya aku sanggup jilatin sampai kesana.
Ku tarik CD-nya kebawah dan ku lepaskan dari pergelangan kakinya, lalu ku campakkan ke samping.
Mataku brenti mandangin vag1na Bu Vera yang indah merekah. Gundukan itu belum lama di cukur sehingga bulu-bulunya cuma ½ cm aja. Gundukan itu begitu anggun dan menggiurkan. Aromanya sedap dan gak ngebosenin.
Ku amati bibir-bibir dan lobangnya yang berwarna pink itu. Tentu itu sangatlah mengundang seleraku untuk segera menyantapnya.
Bodohnya Pak Adnan, sebagus ini di sia-siain. Gumanku dalam hati.
Lalu ku raba gundukan itu dan ku elus-elus dengan lembut.
Ku lebarin paha Bu Vera agar aku bisa mencermati lebih jelas lagi lobang kenikmatan miliknya itu.
Dengan kedua tangan, ku bukakan bibir pengatup lobangnya. Itu sangat menggetarkan seluruh jiwa ragaku.
Lalu tanpa sedikit pun ragu, aku langsung menciuminya. Lalu Bu Vera langsung mengerang ketika lidahku langsung menari-nari di belahan vag1nanya.
Nampaknya dia belum terbiasa merasakannya. Jangan-jangan Pak Adnan belum pernah melakukan itu.
Bu Vera bener-bener kewalahan ketika lidahku gak henti-hentinya menjilati areal kewanitaannya.
Aku makin brutal. Tanpa sedikit pun rasa jijik, aku terus menyedot-nyedot lobang itu dan menarik-narik labia mayoranya pake bibirku.
Nafsuku udah di ubun-ubun. Gak ada lagi kata brenti. Aku terus melahap lobang vag1nanya secara brutal.
Dan aku tau Bu Vera menyukainya.
Meski dia harus gelagapan menahan seranganku, tapi aku tau dia menyukainya. Itulah yang membuat aku makin beringas memberikan service yang bisa memuaskan bathinnya.
Aku mau Bu Vera seneng dan bahagia. Aku mau Bu Vera bisa nemuin apa yang selama ini dia gak temuin di suaminya.
Aku kasian sama Bu Vera. Aku mau ngebahagiain dia. Aku mau ngasih kesan yang sangat indah buat dia.
Aku pun betah berlama-lama jilatin vag1na Bu Vera. Aku memang hobby banget ngerimming vag1na.
"Aduuhhh...... udaahhh....!", erang Bu Vera.
Tapi aku gak mau udahan. Aku masih terus jilatin kemaluannya sampai bener-bener basah. Lalu ku masukin jari manisku ke dalam.
Bu Vera pun menggelinjang merasakan jemariku menjelajahi lobang miliknya.
Gak pake lama, aku langsung masukin jari tengahku juga.
Dua jari kini masuk bersamaan. Itu auto memperkuat erangan dari mulut Bu Vera. Dia bener-bener kesakitan. Masa' sih kesakitan, pikirku.
Aku sih cuek aja. Karna aku malah makin suka kalau aku liat dia kayak kesakitan. Makin ku hantam lagi dan lagi.
Lalu aku pun melepaskan semua pakaianku. Ku goyang-goyangkan senjata milikku di depan mata Bu Vera.
Dia terperanjat melihat gedenya batang kemaluanku.
Pasti punya Pak Adnan gak ada segini, gumanku.
"Gede bangeeettt!!!", pujinya.
"Ah, ibu mah ngeledek. Pasti masih gedean punya Bapak!", ucapku.
"Gak, Bang. Jauh lebih gede punya Abang.", ucapnya.
"Udah siap dipuasin dengan ini?", tanyaku.
Tapi Bu Vera gak menjawab sama sekali.
Lalu ku hujamkan senjata laras panjang milikku tepat ke dalam goa milik Bu Vera. Seketika itu dia mengerang histeris.
Dia bener-bener kesakitan kemasukan batang segede itu.
Maklumlah, waktu lahiran Bu Vera juga operasi caisar.
Aku pun menghentak-hentakkan pinggulku maju mundur. Sehingga batang kemaluanku makin menancap ke dalam goa Bu Vera.
Ku nikmati proses penetrasi itu. Buibu usia 43 tahun dengan anak 3, tapi lobangnya masih sempit dan keset.
Ku bantai terus meyusuri ke kedalaman terowongan milik Bu Vera. Terowongan sempit, gelap, dan lembab itu sepertinya belum pernah terjelajahi sampai sejauh itu.
Bu Vera mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dia menahan rasa sakit. Matanya pun di tutupnya rapat-rapat. Sedang mukanya di kriukkan menahan rasa sakit itu.
Setelah 15 menit menghantamnya dengan gaya missionaris, aku pun nyuruh Bu Vera nyamping.
Kali ini ku sorong lobangnya dari belakang. Karna senjataku emang laras panjang, gampang aja bagiku menyucuknya dengan posisi itu.
Lalu aku pun menyeret Bu Vera turun dari springbed. Ku dorong dia menuju lemari. Ku suruh dia nungging dengan memegangi sisi-sisi lemari.
Aku pun kembali menghantam lobang vag1nanya dari belakang.
Lalu ku angkat kaki Bu Vera sebelah dan ku letakkan di sandaran sofa. Aku pun menggenjot terus lobangnya dari bawah.
Aku pun mencabut batang kemaluanku dari lobangnya. Ku suruh dia telungkup di kasur dengan posisi kaki menjejak lantai. Ku lebarkan posisi kakinya berdiri, lalu ku hajar lagi lobangnya dari belakang.
Ku bolak balik tubuh Bu Vera. Kini dia ku suruh telentang di pinggiran kasur. Ku seret pinggulnya sampai bener-bener ke tepian. Lalu ku angkat kakinya keatas.
Aku pun menghantam lagi lobang vag1na Bu Vera. Kedua tanganku yang kekar memegangi kedua pahanya yang terangkat keatas.
Akhirnya kedua kaki Bu Vera itu ku letakkan di atas bahuku. Sementara pinggulku terus menghentak-hentak memaju mundurkan burungku di lobangnya.
Ku lipat kaki Bu Vera hingga bener-bener membentuk sudut 90 derajat. Lobang vag1nanya kini agak terbenam alias terhimpit oleh pahanya.
Namun burungku tetap menerobos keluar masuk meluluh lantakkan isi dalamnya.
Lalu ku cabut batang kemaluanku. Ku suruh dia bergeser makin ke tengah springbed. Lalu aku pun naik keatas.
Ku lipat pahanya hingga membentuk sudut 45 derajat. Aku pun menghujamkan senjata kebanggaanku ke dalam lobangnya. Posisiku jongkok dengan lutut melipat.
Kalau aku capek, aku turunkan lututku hingga bertumpu ke lembutnya kasur itu.
Masih dengan posisi yang sama, yaitu dengan melipat pahanya kearah perut atau badannya.
Aku terus mendorong dan melipat kakinya hingga kini udah menyatu atau lengket ke tubuhnya. Tubuh Bu Vera yang langsing memang masih bisa di lipat-lipat sedemikian rupa.
Lalu aku yang udah ngos-ngosan itu nyabut batangku dari lobangnya. Aku break sejenak dengan menjatuhkan badanku ke atas springbed. Aku rebah dengan merentangkan kedua tangan ke samping.
"Duduki dari atas, Bu!", ujarku.
Bu Vera pun langsung beranjak dari duduknya dan segera naik ke atas tubuhku.
Dengan posisi menghadap ke aku, dia menduduki burungku.
Di raihnya batangku dengan tangannya lalu di paskannya ke dalam lobangnya. Begitu pas, dia menekan ke bawah sehingga batangku pun masuk ke dalam tubuhnya.
Dia terus menggerakkan tubuhnya naik turun sehingga batang kemaluanku terlihat terangkat tertutup.
Ku gapai kedua payud4ranya dan ku remas-remas dengan kuat. Lalu ku tarik badannya hingga terjatuh ke badanku tapi tetap ku atur agar batangku gak tercabut dari lobangnya.
Kami pun cip0kan sejenak. Lalu dia kembali mengangkat tubuhnya keatas dan fokus mengambil kendali.
"Udah capek, Bu?", tanyaku karna melihat dia udah berpeluh di ruangan ber-AC tersebut.
Lalu aku pun langsung menyuruhnya mencabut batangku.
"Lepas aja dulu, Bu!", ujarku.
Lalu ku suruh dia tidur telungkup. Dan aku pun mendindih tubuhnya dari belakang.
Ku gesekin burungku di belahan pant4tnya.
Aku gak mau langsung masukin ke lobang vag1nanya.
Setelah itu ku tahan batangku dan ku benamkan di antara kedua pahanya.
"Rapatin pahanya, Bu!", ujarku.
Aku kembali menancapkan batangku di sela-sela pahanya. Lalu ku cabut batang itu dan ku gesekin kembali di belahan pant4tnya.
Gak ada niatku untuk nganal. Aku memang gak suka s3ks anal. Tapi saking licinnya, akhirnya kepala burungku nyangkut di lobang ekornya.
Bu Vera tersentak dan bergerak menghindar. Aku pun segera menghentikannya. Lalu ku arahkanlah kepala kemaluanku tepat ke lobang yang sebenarnya.
Meski tersembunyi dan terhimpit di bawah lobang pembuangannya, tapi itu gak sulit bagi batang panjangku untuk menyelinap masuk melewati segala himpitan.
Bu Vera pun meringis merasakan batang panjangku udah kembali bersarang di goanya.
Lembutnya belahan pant4t Bu Vera berasa banget kegencet oleh hentakanku. Itu menghasilkan bunyi plak plak bagaikan sedang tepuk tangan.
"Bu, diatas bentar. Bentar aja.", pintaku.
Aku pun melepaskan tindihanku dari tubuhnya. Bu Vera langsung nurut aja apa kataku.
Aku langsung membalikkan tubuhku agar posisi telentang.
Lalu Bu Vera duduk mengambil posisi seperti yang aku inginkan.
Dia menunggu arahanku harus gimana.
Aku suruh dia menduduki lagi burungku tapi posisinya membelakangiku.
Bu Vera kembali memegang kendali di pacuan kuda kami. Dia yang menunggangi dari atas. Dia memegangi paha dan lututku agar dia punya stamina menaik turunkan pinggulnya.
Tapi posisi itu gak berlangsung lama. Aku gak mau Bu Vera kecapean. Segera ku suruh dia turun.
Kini ku suruh dia nungging diatas kasur. Lalu aku pun menghajar lobangnya dari belakang. Terkadang aku berlutut, terkadang setengah berdiri, pokoknya gimanalah biar dapat posisi enak buat menusuk lobang Bu Vera.
"Kuat banget kamu, Bang! Ibu udah kecapean.", ujar Bu Vera.
"Bentar lagi aja ya, Bu. Masih kuat kan?", ucapku.
"Kalau bisa keluarinlah, Bang!", ucap Bu Vera.
"Iya, Bu. Iya....!", jawabku.
Lalu ku suruh dia kembali ke posisi awal, yaitu posisi klasik.
Bu Vera telentang dengan paha dilebarkan.
Aku pun menindihnya dari atas. Ku sempatin gigitin kedua put1ng susunya, lalu mencumbu bibirnya.
Lalu ku congkel-congkel lobang vag1nanya dengan kedua jari tanganku.
Setelah itu ku masukkan burungku ke dalam. Ku tarik satu bantal dan ku letakin di atas pinggul Bu Vera.
Lalu ku hujamkan kembali batang kemaluanku mengebor lobang vag1nanya.
Waktu pun berjalan terus hingga setelah 10 menit dengan posisi itu, aku pun mau crot.
"Bu.... aku mau keluar!", rintihku.
"Keluarinlah sayang. Tapi jangan di dalem!", ucap Bu Vera.
"Napa kalau di dalem, Bu?", tanyaku dengan nafas memburu.
"Jangan... ntar Ibu hamil.", ucapnya.
"Bu... bu.... aduh.... bu.....!", erangku yang makin merasa sp3rmaku udah mau crot.
"Ah... ahhh... ahhh....!"
Bu Vera ikut merintih dan mengerang-erang menunggu detik-detik menyemburnya sp3rmaku dari moncong senjataku.
Sayangnya gak boleh di keluarin di dalem. Tapi aku harus patuh ke Bu Vera. Biar gak kenapa-kenapa ntar.
"I'm cumming.... I'm cumming....! Oh, yes.... Oh...yes....!"
Aku pun spontan merintih ala-ala film barat ketika mengeluarkan p3juhku.
Seketika itu aku pun nyabut batangku dari lobang Bu Vera.
Tanpa ku bantu kocok, sp3rmaku itu pun menyembur dan membombardir j3mbut dan pusat Bu Vera.
P3juhku buanyak banget. Dan yang pasti juga kental, dong!
Bu Vera langsung mengangkat kepalanya melihat p3juhku itu. Dia kaget dan kagum melihat kualitas dan kuantitasnya.
"Banyak banget, Bang.!", pujinya sambil menyeka dengan tangannya.
Dia memainkan cairan sp3rmaku itu di j3mbutnya dan yang di pusatnya.
Di sapukannya merata di bagian perutnya lalu di cium-ciumnya tangannya.
-----------------------------------------------------------------------
Akhirnya kami jadi pasangan selingkuh sampai bertahun-tahun lamanya. Skandal s3ksual kami bisa kami tutup rapat hingga gak seorang pun yang bisa mengendusnya.
Next, dalam berhubungan intim, Bu Vera jadi mau nelan sp3rmaku dan mau di crotin di dalem. Kadang kami pake kondom tapi kadang juga gak.
Aku dan Bu Vera hidup bahagia meski hanya dalam sembunyi-sembunyi. Kehidupan rumah tangga Bu Vera dan Pak Adnan juga tetap berjalan lancar seperti biasa, tanpa berkurang seuatu apapun.
Bahkan bisa dibilang, Bu Vera jadi lebih menunjukkan perhatian lebih, rasa cinta yang lebih buat suaminya, biar suaminya seneng dan tetap percaya ke dia.
Itu semua atas suruhan dan arahan aku. Pokoknya biar suaminya makin sayang dan gak pernah mikir yang macem-macem ke Bu Vera, istrinya itu.
Aku memang jago banget mengatur skenario gimana biar skandal s3ksualku dengan Bu Vera berjalan lancar tanpa halangan apapun.
Kami berencana akan tetap menjalani hubungan terlarang ini sampai waktu yang gak bisa kami tentukan.
Kayaknya gak ada kata bosen untuk kami. Tapi kalau misalnya akhirnya kami tiba di fase itu, yaitu fase dimana kami udah jenuh jalanin kisah ini, mungkin kami pun akan mengakhiri hubungan gelap ini.
Tamat.
Komentar
Posting Komentar