ππΌππ ππππΎππΏππ ππππ πππΌπππππΌ ππΌππ ππ
Oleh : Ando Lan
Udah 3 tahun aku menjalani hubungan terlarang dengan Mba Dini. Skandal itu kami jaga baik-baik agar gak seorang pun yang tau kecuali aku, dia, setan, dan Tuhan.
Saking rapinya hubungan itu kami bungkus, aku pun resmi di angkat menjadi anak angkat bagi mereka.
Aku pun sering di ajak nginap dirumah itu.
Kalau misalnya aku kerja masuk pagi, pulang kerja aku akan disuruh langsung kesana. Sampai besoknya berangkat kerja dari sana.
Apalagi kalau aku off, aku pasti akan di suruh tidur disitu.
Dari awal aku udah wanti-wanti ke Mba Dini biar gak usah kami me5um di rumahnya. Jangan gegabah. Jangan gara-gara sedikit, kita ketauan Bapak. Demikian ucapku pada Mba Dini.
Awal-awalnya memang kami gak pernah me5um. Tapi itu hanya berlangsung beberapa bulan aja.
Karna bujukan Mba Dini yang bahkan setengah memaksa, akhirnya kami pun me5um juga di rumah itu ketika Pak Juliandi, suaminya, tengah tertidur nyenyak.
Mba Dini selalu meyakinkan aku bahwa dia udah menguasai suasana. Dia tau cara tidurnya suaminya gimana. Yang kalau udah tidur nyenyak gak bakalan terbangun atau dengar apa-apa lagi.
Jujur aja aku takut melakukannya.
Laila ta'ala aku berusaha menolak. Tapi Mba Dini terus memaksaku dan bilang supaya aku gak usah ragu. Aksi kami gak akan ketauan. Dia bisa pastikan itu!
Akhirnya setiap sekitar jam 02.⁰⁰ atau jam 03.⁰⁰ subuh, Mba Dini akan keluar dari kamarnya dan menemuiku ke kamar sebelah.
Bahkan yang paling gila lagi, Mba Dini sering mengajak aku berhubungan intim di samping suaminya yang sedang tidur pules.
Tengah malam, Mba Dini menemuiku ke kamarku dan mengajakku ML di kamarnya.
Mba Dini pun menggenggam tanganku sambil berjalan mengendap-endap ke dalam kamarnya.
Mba Dini sat set menggelar karpet dan bedcover di lantai, tepat di samping springbed mereka.
Aku melihat Pak Juliandi tengah tidur nyamping dengan mengenakan singlet dan sarung.
Lalu Mba Dini mematikan lampu sehingga suasana menjadi gelap gulita. Mba Dini langsung meraba tubuhku di dalam kegelapan itu. Dan permainan pun di mulai.
Aku yang terbiasa tidur hanya menggunakan singlet dan celana boxer merk celcius kesukaanku dengan mudah bisa menanggalkan pakaianku.
Apalagi Mba Dini yang hanya mengenakan kimono yang dililit ke tubuhnya. Sat set dia pun udah telanjang bulat memelukku.
Kurasa udah lebih 10 kali kami ML di kamar mereka. Dimana suaminya ada disana. Dan selama itu gak pernah ketauan sama suaminya.
Tapi ML berikutnya, anggaplah yang ke 11 kali, kami pun ketauan. Karna ketika kami asik bergumul di lantai, ternyata Pak Juliandi terbangun dan terduduk.
Lalu dia meraba sekelilingnya, gak ada istrinya. Dia pun meraba dinding dan menyalakan saklar lampu.
Astaghfirullahaladzim! Aku terperanjat ketika lampu tiba-tiba menyala dan Pak Juliandi dengan wajah kaget melihat ke arah kami.
Waktu itu aku benar-benar ketakutan sekali. Aku udah mengira bahwa ajalku udah tiba. Bagaimana tidak? Aku langsung teringat ke pistol Pak Juliandi yang selalu di letakin di bawah bantal ketika tidur.
Ya Olloh! Aku menggigil membayangkan peluru dari pistol Pak Juliandi akan menembus bagian tubuhku dan akhirnya akan memisah jiwaku dari ragaku.
Wajah kami bertiga pun sama-sama tegang. Untuk kabur dari kamar pun gak bisa ku kakukan. Aku hanya bisa berdiri mematung sambil menutupi kemaluanku dengan tangan kanan.
"Maaf, Pah...!", ucap Mba Dini ke suaminya.
Suara Mba Dini terdengar lirih. Pak Juliandi geleng-geleng kepala.
"Maafin aku Pak. Maafin aku Pak! Aku udah berdosa, Pak!", ucapku dengan suara gemetar dengan tangan menyembah.
Lalu Mba Dini dan Pak Juliandi terlibat adu mulut sejenak. Namun suara mereka diatur gak terlalu kuat, sehingga tetangga gak mungkin bisa dengar.
Inti pembicaraan mereka, Pak Juliandi kecewa sama istrinya, yang tega selingkuh dengan teman dia sendiri.
Lalu tanpa niat membela diri, Mba Dini bilang terpaksa melakukannya karna Pak Juliandi gak sanggup lagi ngasih nafkah bathin.
"Kamu tega, dek. Selama ini kamu udah ku anggap sebagai anakku sendiri!", ucap Pak Juliandi ke aku.
"Jangan salahkan dia! Aku yang salah. Aku yang maksa dia melakukannya. Sebenarnya dia gak mau. Tapi ku paksa terus!", ucap Mba Dini sambil nunjuk ke aku.
"8unuhlah aku, Pak. Biar terbayar dosaku ke Bapak!", ucapku sambil bersimpuh di kakinya.
"Bapak gak pem8unuh, dek!", ucapnya dengan suara bergetar nyaris menangis.
-------------------------------------------------------------------------
Tapi apa yang terjadi setelahnya sungguh diluar dugaanku. Setelah sekian lama terlibat pembicaraan serius dan menegangkan, aku dibuat kaget setengah mampus dengan apa yang terlontar dari mulut Pak Juliandi.
Dia mau memaafkan kami, asalkan kami threesome. Cuma itu jalan satu-satunya biar permasalahan selesai.
Mba Dini pun membujukku supaya mau menerima tawaran suaminya. Aku gak bisa berkata-kata. Sungguh, itu diluar nalarku.
Lalu tiba-tiba pasangan suami istri itu ngobrol lebih santuy dan kayak gak ada beban lagi. Mereka sama-sama mengajakku melanjutkan hubungan intim bertiga.
Lalu Mba Dini langsung menggerayangi tubuhku di depan suaminya. Aku masih kaku! Aku hanya diam tanpa melakukan apa-apa ke Mba Dini.
Otakku terus berputar memikirkan kejadian yang sedang berlangsung. Apakah ini mimpi atau nyata? Gumanku dalam hati.
Mba Dini langsung nyep0ngin tytydku dengan segala kemampuan yang dia punya. Namun tytydku gak bisa ngaceng.
"Santuy aja, dek. Gak usah takut. Bapak gak marah kok sama kamu. Ayo lakukan!", ucap Pak Juliandi.
Lalu Pak Juliandi mendekati istrinya dan melepaskan sarung yang melilit di pinggangnya.
Nampak olehku dia mengenakan celana dalam legend khas Bapak-bapak, yaitu Hing's klasik warna putih.
Lalu sat set di lepaskannya CD itu sehingga terlihat olehku tytydnya yang udah ngaceng total.
Lalu dia memeluk istrinya dan mereka pun ciuman. Sepintas Pak Juliandi menghisap tetek istrinya dan meraba belahan m3kinya.
Lalu Mba Dini pun nyep0ngin suaminya.
Akhirnya atas bujukan mereka berdua, aku pun berusaha membuang rasa takut, deg-degan, dan rasa tegang di otakku.
Aku pun mencairkan suasana dengan ikut aktif menggerayangi tubuh Mba Dini. Ku gigit kedua teteknya sampai dia menggelepar-gelepar.
Pak Juliandi pun termangu menonton aksiku itu.
"Terus dek... lagi dek...!", ucapnya.
Lalu aku di daulat oleh Pak Juliandi memasukkan tytydku ke saluran pipys bininya.
"Bapaklah duluan!", ucapku.
"Gak papa. Bapak mau liat. Biar bapak makin nafsu.", ucapnya.
Akhirnya ku sodoklah lobang m3ki Mba Dini dengan tytydku yang memang gede ini. Mba Dini pun auto menggelinjang dan merintih secara natural tanpa dibuat-buat.
Pak Juliandi pun fokus melihat cara bermainku memuaskan bininya. Dari mimik wajahnya, kelihatannya dia sangat senang melihat bininya senang dan puas.
"Kamu udah puas sayang. Kamu puas sayang?!", ucap Pak Juliandi.
"Iya, Pah... Mama suka.", sahut Mba Dini.
"Puasin bini saya ya, dek. Bapak senang liatnya!", ucap Pak Juliandi ke aku.
Lalu setelah 15 menitan aku hantam m3ki Mba Dini, Pak Juliandi pun minta gantian dulu. Lalu aku pun segera nyabut batangku lalu di ganti dengan batang kemaluan Pak Juliandi.
Baru 2 menit Pak Juliandi langsung menghentikan gerakannya. Dia menatapku.
"Udah nembak ya, Pak?", tanyaku.
"Belum. Tapi mau nembak.", ucapnya.
Dia langsung nyabut batangnya dan duduk nyandar ke dinding.
"Kamu lagi!", ucapnya.
Lalu aku pun langsung melanjutkan pekerjaan Pak Juliandi.
Ketika aku menyetubuhi bininya, dia grepe tubuh istrinya. Misalnya payud4ranya, perutnya, dan juga pahanya.
Lalu Pak Juliandi menyodorkan tytydnya ke mulut istrinya ketika lobang istrinya ku sumbat dengan tytydku.
Lalu aku pun nyabut batangku sebelum Pak Juliandi meminta. Ku suruh dia yang masukin. Dia pun memasukkannya. Ketika dia memasukkan ke lobang bininya, aku hanya duduk memandangi mereka.
"Sini punyamu sayang.", ucap Mba Dini ke aku.
"Kasih di isep punyamu!", ucap suaminya.
Aku pun bergegas ke dekat Mba Dini dan ku rapatin tubuhku ke arahnya sambil berlutut.
Ku pukulkan batangku ke mukanya.
Lalu... hap! Di kulumnya batang itu sambil menikmati tusukan suaminya.
Mba Dini pun gak bisa menyatukan irama genjotan suaminya dengan anggukan mulutnya di tytydku. Akhirnya tytydku lepas dari mulutnya.
Ku arahkan kembali tytydku dan ku hujamkan ke dalam. Ku gesek-gesek keluar masuk sehingga dia kewalahan. Kulihat mukanya udah merah dengan mata yang basah. Aku pun segera mencabut batang itu.
Lalu Pak Juliandi pun menyuruh aku memasukkan punyaku ke istrinya lagi. Dia pun memegangi labia mayora istrinya yang bergesekan dan tergencet oleh batangku dan juga tubuhku.
Entah mengapa Pak Juliandi agak suka memegangi bibir-bibir m3ki istrinya yang tersumbat oleh batang kemaluanku.
Otomatis batangku yang dalam kondisi bergerak naik turun atau maju mundur itu pun ikut terpegang oleh tangannya.
Istrinya pun makin mengerang dan mengerang.
"Dia udah mau nembak tuh!", ucap Pak Juliandi.
Dan benar aja, Mba Dini tiba-tiba kejang-kejang kayak penyakit ayan.
"Tembakkanlah. Masih lama?", ucap Pak Juliandi.
"Gak lagi, Pak!", jawabku.
Lalu ku seriuskanlah menggenjot dengan pikiran fokus, agar p3juhku keluar.
"Udah mau keluar!", ucapku.
"Tumpahin ke perutnya!", ucap Pak Juliandi.
Aku pun buru-buru nyabut batangku agar jangan sempat crot di dalam. Anehnya Pak Juliandi langsung spontan mengocok batangku ketika udah berada tepat diatas perut istrinya.
"Ahhh.... ah.......ahh.....!"
Cairan putih kental dan licin pun menyembur dari lobang kemaluanku. Tembakannya begitu kuat dan jauh.
Ada yang sampai mengenai leher dan hidung Mba Dini.
Sebagian besar lagi tumpah di perut dan pusatnya.
"Banyak banget, ya!", ucap Pak Juliandi.
Ternyata sambil mengocok punyaku dengan tangan kanannya, dia juga mengocok tytydnya dengan tangan kirinya.
Lalu dia mengganti ngocok pake tangan kanannya.
"Masukkanlah, Pak.", ucapku.
"Gak usah lagi. Ibu udah klimax!", ucapnya.
"Masukin ajalah!", ucapku.
Akhirnya dia pun bergeser mendekatkan tytydnya ke lobang istrinya. Anehnya, dia mengambil p3juhku dari perut istrinya dan menyapukannya ke tytydnya. Barulah dia memasukkannya ke lobang istrinya.
Lalu dia pun mengerang pertanda crot. Lalu setelah dicabutnya, kami bertiga pun mandi hot water di bawah shower di bathroom yang berada di dalam bedroom mereka.
Sejak kejadian itu, sepakatlah kami akan selalu main three some. Gak pernah lagi aku main berdua dengan Mba Dini tanpa suaminya.
Dan gak pernah lagi aku main sembunyi-sembunyi dengan Mba Dini.
Itu merupakan hukuman bagiku atau bagi kami berdua yang udah tercyduk oleh Pak Juliandi sendiri.
Memang pertama kali dalam hidupku three some dengan pasutri begini. Aje gile!
Mungkin ini terdengar aneh, tapi ini benar-benar nyata!
Akhirnya aku pun di suruh berhenti ngekost dan tinggal di rumah mereka aja. Kami pun jadi bisa punya kesempatan lebih banyak untuk ML di rumah.
Kebetulan kedua anak mereka sekolah diluar kota semua. Semua jauh di sebrang pulau, yaitu di Ibukota negara kita tercinta ini.
Itulah yang membuat kami bisa bebas merdeka m3sum kapan kami mau.
Dan Pak Juliandi gak lagi manggil dek ke aku, tapi nak. Begitu juga Mba Dini juga manggil nak juga ke aku. Lalu aku pun panggil Bu ke Mba Dini.
Skandal s3ks kami pun berjalan mulus hingga 2 tahun ke depannya. Aku di anggapnya sebagai anak angkatnya. Namun kami melakukan hubungan s3ksual bertiga.
Selesai
Komentar
Posting Komentar