ππ π½πππππΌπ ππππΌππΌπππ π½ππΌπ ππππΌπππππ
Penulis : Ando Lan
Namaku Dian, gadis desa yg gak bisa menjaga kehormatanku untuk suamiku kelak. Aku di mabuk cinta bersama cinta pertamaku semasa sekolah.
Ketika itu aku masih duduk di bangku SMA. Aku pacaran dengan Rio, teman SMA ku dan juga tetanggaku di kampung.
Rio sebenarnya gak ganteng, tapi entah mengapa aku sangat suka dan cinta dia. Padahal kulitnya aja hitam, rambutnya keriting, hidungnya pesek, bibirnya tebal, dan juga kulit wajahnya yg tebal serta hitam mengkilat.
Dan aku juga sebenarnya bukanlah tergolong ceue cantik. Namun bila di bandingkan dengan Rio, aku udah cantik. Wkwkwk.... π
Ketika pacaran dengan Rio, aku bener-bener seneng dan bahagia. Hari-hariku rasanya berbunga-bunga.
Apalagi ketika kami sedang berduaan, aku paling suka bermanja-manja ke Rio.
Aku paling suka nyander di bahu atau dadanya yang lumayan bidang.
Jika kami sedang mesra-mesraan, aku paling suka rebahan diatas pahanya. Lalu dunia ini serasa milik kami berdua, dan yang lain ngontrak. Wkwkwk....
Rio akan membelai rambutku dengan lembut, lalu mengelus pipiku perlahan. Setelah itu jemari Rio akan berpindah ke dagu, hidung, alis, serta bibirku.
"Geli ah, Abaang...!", ucapku manja.
Lalu aku pun menatap wajahnya dan kami pun saling menatap. Ku lihat Rio senyum ke aku, lalu aku pun membalas dengan senyum lepasku.
Kepala Rio perlahan makin menunduk mendekati wajahku. Aku pun langsung memejamkan mataku sambil menunggu apa yang akan terjadi.
Dan yang ku tunggu-tunggu pun akhirnya terjadi. Aku kaget banget ketika ku rasakan geli di sekitar bibirku.
Aku gak berani buka mata. Aku fokus mau ngerasain aja apa yang di lakukan Rio ke aku.
Aku pun tetap memejamkan mataku. Aku bener-bener gak bisa ngungkapin apa yang ku rasakan ketika itu. Aku kayak melayang ke angkasa ketika bibir Rio terus menempel dan bergesek di bibirku.
Spontan sekujur tubuhku bergetar ketika itu. Aku bener-bener suka dengan apa yang Rio lakukan ke aku. Aku pun diam tanpa bicara apa-apa.
Lalu Rio pun mulai menggesek-gesekkan bibirnya lebih berasa lagi. Lalu ku rasakan lidahnya di julurkan keluar menjilati bibirku. Aku pun bukain mulutku sehingga Rio lebih leluasa mencumbuiku.
Entah mengapa aku pun pasrah aja di cumbui Rio. Aku merasakan bibir dan lidah Rio yang bermain-main di atas bibirku.
Lalu Rio melumat bibirku yang membuat aku kelimpungan.
Aku pengen bilang geli, tapi bibir Rio terus menempel di bibirku.
Aku pun akhirnya membalas ciuman Rio. Dengan lihainya aku menggerakkan bibirku mengatup dan menerima setiap lumatan lidah Rio.
"Lidahnya, dek!", ucap Rio sambil terus mencipokiku.
Aku pun menjulurkan lidahku keluar.
Spontan aja Rio langsung melumat dan menggulung lidahku serta menyedot-nyedotnya.
"Ohhh...... owhhh..... achhh......!"
Erangan dan rintihan pun terdengar bersahut-sahutan dari mulut kami.
Kami pun terlarut dalam buaian asmara.
Waktu itu aku pengen Rio melakukan yang lebih lagi ke aku. Entah apa pun itu aku seakan udah siap ngerasain.
Lalu ketika lidah kami masih beradu, aku merasakan telapak tangan Rio menempel di dadaku.
Dan perlahan jemari Rio pun mulai meraba-raba kedua bukit kembar milikku.
"Aaahhh......!"
Aku pun mendesah ketika jemari Rio dengan lincahnya menari-nari di sekitar dadaku. Aku merasakan remasan demi remasan jemarinya di buah dadaku.
Lalu tangan Rio pun mulai bergerilya dan turun ke perutku, ke pusarku, lalu ke selangkanganku.
Aku pun bener-bener pasrah dan siap ngasih semuanya ke Rio, kekasihku itu.
Waktu itu tangan Rio meraba-raba selangkanganku dari balik rok SMA-ku. Lalu aku pun menggelinjang dan mengangkat kakiku tinggi-tinggi.
Akhirnya rokku pun tersingkap hingga paha mulusku tersibak di depan mata Rio.
Aku pun melihat tangan Rio langsung meraba-raba kedua pahaku secara ganti-gantian.
Aku makin menggelinjang ketika tangan Rio meremas-remas pahaku secara langsung tanpa balutan rokku.
Lalu dengan gagah berani, Rio menyentuh daerah vitalku.
"Ahhh....!"
Aku tersentak dan mendesah.
Tangan Rio terus meraba daerah paling sensitifku dari balik celana dalamku.
"Abaaaang.....!", desahku.
"Iya, sayaaangggg!", ucap Rio.
Lalu dia pun melucuti pakaianku. Pertama-tama dia bukain kancing seragam putihku dari atas hingga ke bawah.
Lalu dengan cepat Rio memainkan kedua buah dadaku yang masih terbungkus bra itu.
Namun gak pake lama, Rio langsung menyingkirkan bra itu dengan cara menurunkan ke bawah.
Lalu aku pun duduk dan membukain kancing bra-ku dari belakang. Kini aku melepas bra-ku di hadapan Rio, pacarku itu.
Aku menatap ke mata Rio seakan mempersilakan dia melakukan sesuatu dengan gunung kembarku.
Lalu Rio langsung mendekatkan wajahnya ke buah dadaku. Kini wajah Rio udah menempel di payudaraku. Dia menggosok-gosokkan wajahnya disana seraya tangannya juga ikut megangin.
Lalu Rio menjilat-jilat kedua put1ng susuku dengan pelan-pelan. Namun lama-lama jilatannya pun semakin cepat dan menggila.
Bahkan Rio pun bukan hanya menjilat atau menghisap put1ng susuku, tapi dia menggigit-gigitnya.
"Aduh, baannggg!!!", teriakku.
"Napa, dek? Enak ya?", tanya Rio
"Iya, sayaaang!", ucapku sambil ngos-ngosan.
Rio pun makin mempercepat gigitannya di put1ng susuku. Makin lama gigitannya makin kuat dan brutal.
Aku pun sampai kesakitan dibuatnya. Namun semua itu ku tahan dan berusaha ku nikmati semuanya.
Alhasil aku pun bisa merasakan kenikmatan. Rasa geli bercampur dengan rasa sakit secara ganti-gantian. Aku pun gak berhenti mengerang dan mendesah-desah.
Lalu Rio meraih tangan kananku lalu meletakkannya di selangkangannya. Aku pun tersentak ketika ku rasakan sesuatu yang lembut namun keras di balik celananya.
Kembali berguncang seluruh tubuhku ngebayangin alat vital kekasihku itu.
Rio pun tetap menempelkan tanganku di selangkangannya. Gak lupa dia gesekin tanganku disana.
Akhirnya aku pun gak tahan lagi. Ku raba dan ku remas-remas alat kelamin pacarku itu tanpa henti.
Lalu aku menatap mata Rio. Dia mengangguk sambil senyum ke aku. Aku pun gak mau melepaskan tanganku dari sana.
Aku memainkan alat vital kekasihku itu dari balik celana abu-abunya.
Lalu Rio bangkit berdiri. Di tanggalkannya bajunya dan juga celana panjangnya. Kini Rio telanjang dada di hadapanku. Aku terkespppima melihat body atletisnya yang kini hanya mengenakan celana dalam merk bontex warna ijo lumut itu.
Mataku terus jelajatan liatin jendolan gedenya. Rio pun tau aku sedang liatin itunya. Lalu Rio berjalan mendekat ke aku. Lalu aku pun meraba jendolan itu dan memainkannya cukup lama dengan tanganku.
"Bukalah sayang!", ujar Rio.
Aku pun masih agak malu-malu sehingga aku enggan bukain CD-nya.
Lalu Rio berdiri makin merapat ke aku. Dia pun menggesek-gesekkan anunya itu ke wajahku.
Jujur aku sangat menyukainya.
"Bukalah!", ujar Rio sekali lagi.
Tapi aku masih ragu. Kembali ku tatap matanya Rio.
Lalu akhirnya Rio lah yang duluan bertindak. Di remasnya kembali gundukan di balik CD-ku. Lalu di gosokinnya mukanya disana.
"Rebah sayang....!", bisiknya.
Aku pun langsung menurut aja apa yang Rio minta.
Aku rebah dan pasrah di hadapannya.
Lalu Rio perlahan-lahan menarik karet CD-ku dengan kedua tangan.
Akhirnya tubuhku pun polos tanpa di balut sehelai benang pun di hadapan Rio.
Awalnya Rio mengelus-elus Mrs. V-ku dengan tangannya. Lalu dia mainin rumput-rumputnya.
Aku pun merenggangkan kedua pahaku biar Rio lebih leluasa memainkan jemarinya disana.
Lalu Rio menyentuh serta memainkan labia mayoraku, dan juga labia minoraku.
"Abang sayanggg!", desahku berkali-kali sambil menikmati jemari tangan Rio menggelitik dan menyeka organ intimku.
Jemari Rio terus bermain di organ intimku. Sehingga aku pun menggelinjang merasakan nikmatnya permainan jemarinya.
Akhirnya aku pun basah. Rio makin beringas memainkan jemarinya di bagian paling sensitifku itu.
Ku raih tangan kiri Rio dan ku tempelin di payud4ra kiriku. Rio pun auto meremas-remas kuat-kuat hingga aku makin gak bisa menahan sensasinya.
Lalu Rio menundukkan wajahnya dekatin payud4raku. Lalu dengan cekatan lidahnya menjulur dan menjilati kedua payud4raku.
Rio nampak makin beringas. Di gigitnya kedua put1ng susuku dengan kasar. Hal itu membuat aku merasakan sakit yang di mix dengan rasa nikmat.
"Ahhh.... auuuhhhhh.... ooohhhhh...!"
Rintihanku pun kian terdengar kuat.
"Pelanin sayang!", bisik Rio.
Tapi aku gak bisa. Itu semua gak ku sengaja. Tapi saking enak dan gelinyalah makanya rintihanku makin kuat.
Lalu Rio menindih tubuhku dari atas. Seluruh tubuhnya kini menempel dari atas ke bawah tubuhku. Itu membuat getaran hebat di sekujur tubuhku.
Rio menggesek-gesekkan tubuhnya ke tubuhku. Ku rasakan batang milik kekasihku itu bergesek di sela-sela pahaku.
Rio pun menyelipkan batangnya ke pahaku lalu menggerakkannya naik turun.
Aku bener-bener menyukai itu. Aku gak brenti merasakan sesuatu yg geli dan enak melanda bagian pahaku.
Aku merapatin kedua pahaku biar bisa lebih megang dan menghimpit batang kekasihku itu.
Sekian lama kami saling merangkul dengan posisi itu. Mulutku pun gak bisa brenti meringis lagi.
Lalu Rio menghentikan gerakannya dan nyabut batangnya dari antara pahaku.
Lalu mata kami saling menatap. Di kecupnya kedua pipiku, lalu keningku.
"Sayaaang!", ucapnya pelan.
"Iya, sayangkuh!", jawabku manja.
"Kamu suka?", tanyanya.
"Suka banget, sayang!", jawabku mantap.
"Kita masukin ya, sayang!", pintanya.
"Iya, sayang!", jawabku tanpa ragu.
"Kamu mau, kan?", tanyanya.
"Iya, sayang. Masukinlah sayang. Adek gak tahan lagi, sayang!", ucapku.
Lalu Rio deketin mulutku ke arah organ intimku. Lalu dia menggesekkan bibirnya disana.
Gak berapa lama gesekin bibirnya, Rio pun tanpa ragu menjulurkan lidahnya disana.
Aku pun menggelepar seraya mendesah hebat dibuatnya.
Makin ku mendesah, Rio makin ganas aja menjilati bagian itu.
Dia makin menggila menyapu bersih lobang milikku dengan lidahnya.
Gak tau berapa menit Rio berkutat di bagian itu. Bener-bener gila! Aku suka banget permainan Rio.
Aku tau itu di lakukannya karna dia bener-bener cinta. Kalau gak cinta gak mungkin dia rela lakuin itu.
Rio bener-bener totalitas nunjukin cintanya ke aku.
Lalu Rio menghentikan jilatan lidahnya. Dengan kedua lutut bertumpu ke lantai, dia berjalan mendekati aku.
Di sodorkannya batangnya ke mulutku. Lalu di oles-olesnya ke seluruh pipiku, ke bibirku yang masih mengatup, dan juga ke jidatku.
Lalu di pukul-pukulkannya batang itu ke pipiku. Aku pun menyambutnya dengan mencium-cium batang milik Rio. Ku endus aroma kepala dan batangnya. Lalu lanjut ke kedua bijinya yang gak luput juga ku ciumi.
"Isap sayang!", pinta Rio.
Aku pun mencoba menjulurkan lidahku perlahan. Ku tarik kulubnya ke belakang sehingga kepalanya terbuka. Lalu kujilat kepalanya yang mengkilat dan berwarna pink itu sekali.
"Owhh!"
Terdengar Rio mendesah lalu berenti seiring berentinya jilatanku.
Mata kami beradu.
"Lagi sayang!", ucapnya sambil membelai rambutku.
Aku pun menjilat lagi kepala kemaluan Rio sekitar 3 kali. Lalu ku jilat bagian batangnya.
"Terus sayang... terusss!", ucap Rio.
Aku pun mengulangi jilatanku yang kini makin ku percepat.
"Emut sayang!", pintanya sambil megangin batangnya dan mengarahkannya ke dalam rongga mulutku.
Aku pun membuka mulutku. Lalu Rio memasukkan batangnya ke dalam. Lalu ku katupkan mulutku dan ku kenyot batangnya yang udah teramat kenceng itu.
Aku memang gak pinter nge-blow job. Tapi semuanya ku lakukan dengan sepenuh hati. Segala kemampuan ku kerahkan karna memang aku suka itunya Rio.
Dengan megangin pangkalnya dengan tangan kananku, aku ngemutin punya Rio bagaikan menikmati permen tangkai.
Lalu nampaknya Rio gak tahan lagi atau emang kurang dapat feelnya, akhirnya dia menggerakkan pinggulnya maju mundur.
Sehingga batang kemaluan Rio keluar masuk rongga mulutku.
Aku pun dibuat gelagapan dengan itu. Aku mual. Mataku berair dan nafasku terengah-engah.
Aku ngeluarin batang Rio dari mulutku.
Akhirnya Rio menyuruhku berbaring aja. Setelah aku berbaring, dia kembali menjilat-jilat kemaluanku. Sehingga nafsuku kian memuncak. Aku gak kuasa lagi menahan nikmatnya permainan bibir dan lidah Rio di kemaluanku.
Aku bagai cacing kepanasan ketika dengan brutalnya Rio melahap habis kemaluanku pakai mulutnya.
Kakiku menendang-nendang kesana kemari. Terkadang aku harus mengatupkan kedua pahaku menutupi organ intimku. Aku seperti gak sanggup di jilati Rio.
Lalu Rio menggesek-gesekkan batang kemaluannya di bibir kemaluanku. Ini juga gak kalah geli dari permainan lidahnya tadi.
Aku makin gak sabar lagi. Ku rentangkan pahaku lebar-lebar. Aku bener-bener pasrah mengikuti permainan Rio.
Lalu Rio mengarahkan kepala kemaluannya ke bibir goa milikku. Dan dengan hati-hati dia mendorong masuk kepalanya itu.
Akhirnya kepala kemaluan Rio pun berhasil menancap. Rio terus menekan sehingga perlahan-lahan batangnya makin masuk.
Aku meringis dan mengerang. Ku rasakan sakit ketika batang kemaluan Rio kian tenggelam di goa milikku.
Tapi aku udah pasrah. Aku udah merelakan keperawananku di renggut kekasihku itu. Aku bener-bener gak akan menyesalinya. Aku bener-bener mencintai Rio. Makanya aku mau ngasih segalanya ke dia.
Lalu batang Rio pun akhirnya menancap sampai pangkal. Dia pun menghentak-hentak maju mundur. Aku pun merem melek dibuatnya.
Dengan nafas ngos-ngosan, kami berdua bercip0kan. Rio begitu pinter melumat bibirku. Lalu menggulung lidahku sedemikian rupa.
Sementara pinggulnya terus di gerakkan menghantam goa keperawananku.
Kami berpeluh. Kami gak melepaskan ciuman kami. Ku rangkul punggung Rio dari bawah. Ku angkat kedua kakiku mencengkram pinggul Rio.
Rio pun terus menggenjot lobangku. Gerakannya kini makin dahsyat. Dia menggentak dengan kuat-kuat. Di hantamnya dalam-dalam dengan begitu kasar. Tapi aku suka itu.
Rio pun meremas kedua payud4raku lalu melepaskan mulutnya dari mulutku. Lalu dia berusaha mengigit kedua put1ng susuku sehingga aku pun menggelinjang hebat.
Ku pegangi kedua pantat Rio dan ku tekan-tekan ke dalam.
Rio terus memacu kudanya dengan binalnya.
Peluh Rio berjatuhan tepat ke wajah, leher, dan dadaku.
Aku menikmati hentakan demi hentakan Rio yang menjebol goa keperawananku. Itu teramat nikmat bagiku, dan yang pasti bagi Rio juga.
"Enak sayang....!", ujar Rio.
"Iya, sayang... Enak banget!", ujarku.
Aku pengen nyuruh Rio ganti gaya. Tapi aku masih enggan menghentikan dia. Karna dia tengah fokus menancapkan senjatanya di goa milikku.
Akhirnya ku nikmati aja semuanya. Aku merasa enggan menghentikan gerakannya. Makin lama Rio makin ganas menghantam lobangku dengan batangnya.
Terkadang dia membuat gerakan lambat namun dengan hentakan yang panjang dan dalam.
Lalu di percepatnya gerakan itu hingga seluruh batangnya terbenam ke dalam lobangku.
"Ahhh.... ahhhh....!"
Aku makin mengerang kenikmatan.
"Owwwwhhhhhhh......ohhhhhh!"
Rio juga membalas eranganku.
Erangan dan rintihan kami pun bersahut-sahutan.
Lalu Rio mengerang begitu kuat.
"Ahhh.... aduh sayang... ahhhh.... ahhhhhh!!"
Gerakan pinggulnya makin cepat di iringin desahannya yang teramat kuat.
"Sayang... sayaang... Udah keluar sayang!", ujar Rio.
Ternyata Rio udah crot! Gak sempat kami ganti gaya. Dengan nafas memburu dia terus menggerakkan pinggulnya mengeluarkan sp3rmanya. Dia memelukku kuat-kuat sampai semuanya keluar.
Setelah keluar semua, Rio makin memperlambat gerakannya, hingga akhirnya dia menghentikan gerakan itu.
Kami saling menatap. Nafas kami masih sangat ngos-ngosan.
Batang Rio masih tertancap di dalam lobang vag1naku.
Kurasakan berat badan Rio menindih tubuh mungilku.
Setelah itu batang keras Rio perlahan-lahan melembek. Dan akhirnya tercabut sendiri.
Aku bener-bener puas dengan permainan yang Rio suguhkan.
Ini merupakan pengalaman bercintaku untuk kali pertama. Dan ini ku lakukan dengan cinta pertamaku pula.
Aku pastiin aku gak akan menyesali keputusan ini. Aku sadar aku melakukannya atas dasar suka sama suka.
Rio gak memaksaku memberikan keperawananku. Rio hanya meminta. Dan aku lah yang langsung memberikannya di renggut oleh dia yang ku sayangi.
Aku sadar inilah keindahan percintaan dua anak manusia. Kami bener-bener di landa asmara. Sehingga dengan sendirinya kami melakukan sesuatu yang nikmat.
Tamat.
Komentar
Posting Komentar