πΏππΌ ππππππΌππΌπ πΌππ πππππππππ ππΌπππππΌπππΌ
Oleh : Ando Lan
Aku mengenal Mawar ketika dia duduk di bangku kelas 9. Mawar merupakan seorang ceue yang baik, ramah, murah senyum, dan suka bergaul.
Mawar menganggapku sebagai sahabat karibnya. Dia sering minta tolong ke aku, misalnya ngantar dia ke suatu tempat, dan sebagainya.
Aku memang berusaha menjaga Mawar dan gak berniat menggagahinya. Namun karna kekompakan kami, dia seperti udah menganggapku sebagai pacarnya.
Aku bisa mengetahui kalau Mawar menyukaiku. Kalau seandainya aku nembak dia, pasti dia akan langsung mau. Walau begitu aku gak mau memacari Mawar. Aku mau hubungan kami gak lebih dari sahabat.
Tapi Mawar nampaknya udah pengen mendapatkan cintaku. Walau aku udah lama tau gelagatnya, tapi aku masih cuek dan berusaha menghindarinya. Namun dia terus berusaha mencari cara agar aku bisa menanggapi isi hatinya.
Terus terang dia udah beberapa kali mengaku nyaman berteman dengan aku. Dia bilang pengen dapatin couo sebaik aku. Kalau bisa yang persis dengan aku. Itu artinya dia cinta ke aku.
Kalau ada waktu luang, kami akan selalu jalan bareng keliling kota. Biasanya kami akan mengunjungi taman-taman kota, hutan kota, atau pun tempat-tempat rekreasi yang ada dikota kami.
Disana kami persis kayak orang yang lagi pacaran. Mawar pun udah berani rebahan di bahuku dan menggenggam jemari tanganku.
Tatapan matanya mengisyaratkan agar aku menjadikan dia pacarku.
Tapi lagi-lagi aku masih gak mau meresponnya. Aku takut Mawar jadi rusak di tanganku nanti. Aku gak tega kalau suatu saat nanti aku akan menggagahinya. Karna aku paling gak bisa pacaran dengan ceue tanpa mencicipi tubuhnya.
Aku tau emosi Mawar masih labil. Dia memang lagi di fase puber. Aku gak mau menganggap dia sebagai ceue murahan. Aku tau dia orang baik. Apalagi aku kenal keluarganya merupakan kalangan baik-baik.
Aku gak bisa memastikan Mawar gak ku apa-apain kalau kami udah pacaran.
Begitulah aku kalau udah sempat main hati ke seseorang. Aku memang wajib akan icip-icip semuanya.
Tapi godaan itu terlalu besar buatku. Akhirnya kehadiran Mawar yang selalu nempel ke aku pun meruntuhkan imanku. Aku menyambut hasrat membara yang bergejolak di dadanya.
Betapa bahagianya Mawar ketika ku sandarkan dia di dadaku sambil ku usap rambut panjangnya.
Ku peluk dia dengan melingkarkan kedua tanganku di dadanya. Mawar menengadah ke atas menatap dalam-dalam ke mataku. Dari sorot mata itu jelas aku tau bahwa dia pengen ku sayangi.
Akhirnya dengan sangat menyesal aku pun memberikan yang dia minta. Ku ikuti kemauan dia, dan akhirnya dia benar-benar jatuh di pelukanku.
-----------------------------------------------------------------------
Ketika malam minggu, ku bawa dia jalan-jalan ke taman kota, yang letaknya berdampingan dengan sebuah hotel bintang 5.
Di atas rerumputan yang di pangkas rapi, kami duduk berduaan. Tepatnya di bawah pohon ketapang kencana, tanganku mulai ramah menjelajahi tubuhnya.
Aku gak peduli dengan sekelilingku. Dimana setiap jarak 5 meter dari kami, pasti ada pasangan sejoli yang juga dimabuk asmara. Mereka juga gak peduli dengan sekelilingnya. Semua sibuk masing-masing dengan pasangannya.
Ada yang memasukkan tangannya ke kutang ceuenya, ada yang ciuman, dan sebagainya.
Aku pun melakukan hal yang sama. Ku remas kedua payud4ranya dengan kedua tanganku. Lalu perlahan tanganku menyusup ke dalam kutangnya. Bahkan dengan santuy ku buka beberapa kancing bajunya sehingga bukit kembarnya bisa ku keluarkan dan ku main-mainkan.
Mawar pun sama sekali gak malu kami melakukan itu di tempat umum itu. Lalu akhirnya aku pun mengajaknya pergi, karna udah jam 21.³⁰ waktu itu. Security taman udah menyisir ke dalam taman dan menyuruh para pengunjung agar pulang.
Kami pun beranjak dari tempat duduk kami. Tapi kami gak langsung keluar menuju gerbang. Kami malah jalan-jalan dulu ke bagian tengah dan sudut lain di taman.
Di bantaran kolam yang ada di tengah taman, kami melihat para pasangan sejoli masih pada asik berduaan. Apalagi bias lampu temaram di tengah taman, mendukung aksi para pasangan yang dimabuk cinta itu.
Di bawah rindangnya pohon bintaro dan cemara udang, serta aneka pohon palem yang ditaman berjejer, mereka nampak lebih berani buka-bukaan.
Bahkan ada yang nge-BJ pasangannya.
Kami pun pulang setelah mampir dulu di Warung Ayam Penyet Surabaya.
Nampak Mawar agak kecewa karna hanya sampai disitu aja kami bermesraan. Sementara dia pun gak bisa pulang ke rumah diatas jam 23.⁰⁰
Besoknya hari Minggu, aku ajak dia jalan-jalan ke Danau Buatan. Aksi itu pun kembali kami lakukan di bawah gugusan pohon akasia dan pohon mahoni. Lalu kami pun pindah tempat ke pondok berupa bilik-bilik kecil di tepi danau. Disana kami bisa lebih leluasa dari yang tadi malam.
Aku pun merebahkan Mawar di pelukanku sambil ku bukain bajunya. Kedua tanganku tengah asik meremas kedua bukit kembarnya. Lalu merambat hingga perut dan bagian bawah pusatnya.
Tytydku udah ngaceng dari tadinya. Apalagi kepala Mawar selalu bersentuhan dengan jendolanku. Aku gak tau apakah Mawar udah tau kalau tytydku udah ngaceng. Soalnya pasti berasa keras bergesek ke kepalanya.
Lalu aku pun menunduk menciumi pipi dan bibirnya. Kami pun bercumbu mesra di dalam bilik itu. Mawar nampak sangat pasrah dan menikmati setiap sentuhanku.
Lalu aku pun menghisap kedua bukit kembarnya dan memainkan pentilnya.
Alhasil Mawar pun mendesah manja. Dia menggelepar merasakan sensasi mulutku yang menari-nari di sekitar dadanya.
Aku pun meraba gundukan padat di selangkangannya. Kebetulan Mawar mengenakan celana legging warna hitam. Sehingga dengan mudahnya tanganku bisa merasakan kelembutan bagian dalamnya.
Sesekali ku masukin tanganku ke dalam leggingnya, sehingga tanganku menyentuh kain celana dalamnya.
Gak berhenti disitu, ku pindahkan tanganku menyusup ke dalam celana dalamnya. Akhirnya tanganku pun berhasil bersentuhan langsung dengan gundukan yang di tumbuhi semak itu.
Mawar mendesah nikmat ketika tanganku meraba-raba bagian kewanitaannya. Semua kuraba. Bahkan lobangnya juga ikut ku raba-raba.
"Auuhhh..... oowwhhhh..!"
Lalu Mawar menggelepar-gelepar hingga telungkup. Kini mukanya tepat mencium selangkanganku. Akhirnya ku raih tangannya dan ku tempelkan di jendolanku yang udah membengkak itu.
Lalu dia pun memainkannya dengan rabaan. Akhirnya ku turunkan resletingku dan ku keluarin batangku dari dalam. Mawar pun mencium-cium batangku yang suhunya udah panas itu. Dia terus menciumi dan mengoles-oles ke mukanya.
"Iseplah!", bisikku pelan.
Lalu Mawar menatapku. Aku pun ngasih isyarat lagi dengan menganggukkan kelapaku.
Lalu Mawar pun nge-BJ aku dengan posisi tengkurap.
Ku nikmati setiap BJ-an Mawar di tytydku.
Itu udah lumayan bagi seorang pemula.
Mawar nge-BJ aku dengan gerakan pelan-pelan. Aku pun bantu coliin agar rasa nikmatnya lebih dapat.
Mawar nampak serius dengan mainan barunya. Walaupun dia masih kurang pintar urusan nge-BJ, tapi dia melakukannya dengan sepenuh hati.
"Udah sayang. Ntar ada yang liat!", bisikku.
"Bentar lagi, Abaang!", pintanya.
"Sampai crot aja ya?", tanyaku.
"Iya, sayang!", bujuknya.
Akhirnya saking nyamannya tempat itu, akhirnya aku pun sampai crot. Aku crot di dalam rongga mulut Mawar. Namun karna masih pemula, Mawar nampak gelagapan dan muntah-muntah.
Aku sempat dibuat kelimpungan karna Mawar terus muntah-muntah. Wah, pasti ketauan nih sama bilik sebelah kami lagi habis ngapain.. gumanku dalam hati.
Aku jadi segan dengan bilik kiri kanan karna Mawar gak bisa mencegah atau menyetop agar gak muntah.
Padahal dia udah kumur-kumur yang banyak dengan air mineral. Bahkan kemasan air mineral isi 1,5 ltr udah nyaris habis untuk kumur-kumurnya. Tapi tetap aja dia masih mual dan mual.
-----------------------------------------------------------------------
Malam minggu berikutnya aku ketemu Mawar jam 17.⁰⁰ WIB. Kami pun jalan bareng. Mawar memeluk erat pinggangku diatas sepeda motorku.
Lalu aku pun mengajaknya makan. Tapi dia bilang belum lapar. Lalu aku pun nanya kemana kami saat itu.
Singkat cerita, kami sepakat ngamar ke hotel. Nampaknya Mawar udah gak sabar pengen lanjutin kegiatan kami. Setelah ngunci pintu, aku dudukkan Mawar di Sofa lalu aku pun duduk di gagang sofa dan memeluk dia dari samping.
Lalu aku pun menunduk sampai berlutut di lantai itu dan terus memeluk serta menciumi Mawar. Kamipun bercumbu yang cukup lama. Tanganku pun udah membukai kancing bajunya, sehingga bukit kembarnya juga ku isapin.
"Kesini yuk!", ucapku sambil berjalan menuju bed.
Mawar pun beranjak dari sofa lalu ikutan naik ke atas ranjang itu.
Seketika itu kami pun sama-sama melepaskan pakaian masing-masing sampai benar-benar bug1l.
Ku cipok bibir Mawar lama-lama sampai lidah kami pun saling melumat. Ku gigit kedua put1ngnya sehingga dia meringis kesakitan.
Lalu aku memandikucingkan Mawar dari leher hingga pahanya.
Aku pun mengamati gundukan bukit kecil nan indah milik Mawar. Warnanya yang begitu memanjakan mata hingga tampilannya yang masih begitu original. Aku pun mengoles wajahku di gundukan itu dan menjilati sela-sela pahanya.
Lalu aku pun menjulurkan lidahku ke belahan yang di tengah bukit itu. Mawar pun langsung mendesah dan mengerang nikmat. Dia menutup rapat pahanya karna dia gak sanggup menahan gelinya jilatan lidahku yang begitu brutal menari-nari disana.
Kedua tanganku pun dengan sigap menahan kedua pahanya agar tetap terbuka. Ku bantai terus belahannya dengan jilatan-jilatan maha dahsyat. Mawar pun sampai kewalahan dan nyaris pingsan.
Lalu aku pun menghentikan jilatanku disana. Ku sodorkan tytydku ke mulutnya. Mawar pun langsung membuka mulutnya lebar-lebar dan menampung batangku lalu mengemutnya.
Sesekali ku sorong batangku pelan-pelan sehingga Mawar gak perlu menganggukkan kepalanya.
Gak begitu lama aku ngasih Mawar nge-BJ tytydku. Aku pun langsung kembali merimming belahan bukit indahnya. Setelah dia menggelinjang, dia pun minta aku masukin tytydku kedalam.
"Abang..... masukinlah abaaanggg!", erangnya.
Akhirnya tanpa pikir panjang, ku arahkan kepala kemaluanku ke lobangnya. Lalu dengan sangat hati-hati aku menyorong ke dalam. Mawar meringis begitu batangku menusuk ke dalam lobang kenikmatannya.
"Aduh.... aaahhh.... sakit bang.... sakiiit!!!", erangnya.
"Tahan ya, sayang. Bentar aja kok. Ntar juga enak!", rayuku sambil ku kecup-kecup bibirnya.
Aku berusaha memberikan rangsangan kenikmatan di titik lain, agar konsentrasinya gak terfokus ke rasa sakit di kemaluannya. Aku pun menciumi pipinya dan mencoba menggapai put1ngnya dengan mulutku.
Makin lama batangku menancap makin dalam. Ku goyang terus biar bisa masuk semua. Mawar pun merintih terus tanpa henti. Aku pun makin horni mendengar setiap rintihan yang keluar dari mulutnya.
Goa milik Mawar terasa begitu sempit dan menggigit. Otot-ototnya berasa berdenyut seperti mengikat batangku. Butuh kehati-hatian agar proses penetrasi itu gak menyakiti Mawar.
"Srrrttt!"
Aku bagai mendengar bunyi di dalam goa milik Mawar. Ketika itu aku sedang berusaha mendorong masuk seluruh batangku hingga pangkalnya. Disitulah terdengar bunyi krek itu.
Kejadian itupun di sertai tangisan Mawar yang seperti gak kuasa menahan kesakitan.
"Udah masuk semuanya sayang.....!", ucapku ke telinganya.
"Ku genjot terus hingga lama-lama Mawar gak lagi mengerang kesakitan. Namun dia tetap merintih dan mendesah kenikmatan.
Berkali-kali dia memanggil aku dengan panggilan sayang, sayang, dan sayang.
Aku menjebol goa keper4wanan dengan happy ending. Dia benar-benar pasrah memberikan mahkota kesuciannya ku renggut. Kini Mawar udah gak perawan lagi. Aku udah merobek selaput daranya dengan terjangan batang kemaluanku yang super gede dan keras ini.
Selama 40 menit aku non stop menghujamkan pedangku ke goa Mawar. Jujur sebelumnya aku udah minum jamu kuat. Akhirnya Mawar pun udah bisa lebih santuy. Mukanya gak setegang sebelumnya lagi.
Tadinya mukanya selalu di di keritingkan sambil menutup mata. Gak lupa giginya di katupkan dengan bibir yang terbuka.
"Kalau abang nembak gimana, sayang?", tanyaku.
Lalu tiba-tiba wajah Mawar tegang dan kaget.
Belum sempat dijawabnya, aku langsung bilang:
"Nanti abang tarik aja sebelum keluar!"
"Bang... pake kondomlah!", ucap Mawar tiba-tiba.
Aku pun menatap dia. Aku pengen ngambil kondom dari dompetku, tapi aku malas menghentikan permainan itu. Lagi tanggung-tanggungnya. Aku pun mager dan terus melanjutkan genjotanku.
"Ada, Bang?", tanyanya.
"Ada, sayang!", jawabku.
Lalu karna pertanyaan dia itu, akhirnya aku pun mencabut batang kemaluanku dari lobang kemaluannya. Segera ku sobek bungkus kondom itu lalu sat set ku pasangkan ke batangku.
Aku pun kembali menghujamkan batang itu ke dalam lobang milik Mawar. Lalu sekitar 15 menit kemudian aku mau crot. Aku pun ngasih tau Mawar kalau aku udah mau crot.
Gerakan pun makin ku percepat.
Mawar kembali menjerit dan mengerang.
Lalu akhirnya sekujur tubuh Mawar jadi tegang. Dia seperti gak sadarkan diri. Ku panggil-panggil namanya tapi dia gak menyahut.
Lalu aku pun terus mempercepat gerakan pinggulku. Ku kencangkan otot-otot di lobang boolku sambil ku gas terus lobangnya.
"Aaarrrgggghhhhhhh....! Ooouugghhhtttt....!"
Ku benamkan batangku dalam-dalam dan ku tekan kuat-kuat ketika menyemburkan p3juhku di lobang Mawar. Aku mendesah kuat-kuat sambil menahan batangku di dalam. Ku rasakan batangku masih meronta-ronta dan mengungkit-ungkit di dalam goa Mawar.
Deru nafasku begitu kuat. Ku panggil nama Mawar sambil ku kecup keningnya. Akhirnya Mawar pun siuman. Dia membuka matanya dan menatapku dengan sangat dalam.
"Sayang!", ucapku.
Gak ada jawaban dari bibirnya. Dia hanya mengukir senyum indah di bibirnya.
"Makasih, sayang...!", ucapku sambil mengecup bibirnya.
"Makasih abang sayang!", ucapnya sambil merangkulku.
Batangku masih ku biarin tertancap di lobangnya. Setelah nafasku kembali normal, disitulah ku cabut batangku. Kini batangku udah terkulai lemas dengan ujung yang menahan beban yang berat. Ujung kondom itu nampak menggantung menampung p3juhku yang begitu banyak.
Setelah kejadian itu Mawar makin cinta dan sayang ke aku. Dia merasa aku benar-benar kekasihnya yang udah bisa membahagiakannya. Kami pun akhirnya wajib ML seminggu sekali. Itu semua kami lakukan atas dasar suka sama suka, tanpa adanya unsur paksaan dari salah satu pihak.
Selesai
Komentar
Posting Komentar