πΌππ π½πππππππ½ππ πΏππππΌπ ππΌπππππ ππΌπππ
Penulis : Ando Lan
Waktu itu aku melintas di sebuah jalanan. Aku meliat seorang wanita yang sebenarnya gak bisa di bilang muda lagi. Kalau ku taksir, umurnya kisaran 30 tahunanlah. Sedangkan umurku juga udah 35 tahun kala itu.
Sore itu sekitar jam 15.⁰⁰ WIB. Dia duduk-duduk di sebuah halte. Tapi sejam kemudian ketika aku melintas, dia masih disana. Bahkan sampai jam 17.¹⁰ WIB dia masih disana.
Akhirnya aku pun memutuskan brenti di depannya dan nanya-nanya.
Kalau boleh jujur wajahnya juga biasa aja. Dia mengenakan t-shirt warna ijo yang dipadu dengan celana jeans biru.
Di pergelangan tangan kirinya melingkar sebuah jam tangan warna silver. Sedang di telinganya ada terselip anting-anting.
Dari penampilanya nampaknya dia wanita biasa aja, yang keliatannya nungguin temen.
Aku pun nyapa dia dengan memberaniin diri duduk di sebelah kanannya.
Ternyata ceue itu ramah dan menjawab semua pertanyaanku. Dia juga murah senyum tapi tetap terkesan cuek.
Belum ada yang dia tanya balik nanya tentang aku. Justru akulah yang nyeritain beberapa hal tentang diri aku ke dia.
Selama kami duduk disana, semuanya nampak biasa aja. Banyak orang yang lalu lalang di depan kami ngeliat ke arah kami yang lagi asik ngobrol itu.
Aku melihat ceue itu tampak duduk tenang dan gak banyak bicara.
Dari pengakuannya, dia lagi nunggu temannya yang mau nganter dia ke suatu tempat untuk nyari kerja.
Tapi sekian lama aku nemaninya disana, belum nampak tanda-tanda kedatangan temannya itu.
Aku pun menawarkan untuk mengantarnya, tapi dia menolak.
Akhirnya jarum jam menunjukkan pukul 18.⁰⁰ WIB. Aku pun bosan dan udah ngantuk plus lapar.
Aku pun ngasih tau ke dia aku laper. Ku ajak dia makan ke warung terdekat. Tapi dia enggan menerima ajakanku tsb.
Aku pun terus menawarkan ke dia biar aku aja yang traktir.
Akhirnya dia pun mau.
Ku bawalah dia ke Rumah Makan langganan aku, yaitu ke Nasi Padang.
Setelah siap makan, kami kembali ngobrol.
Kali ini si seue udah mulai terbuka dan banyak ngobrol dengan aku.
Suasana pun makin cair karna obrolan kami udah di sisipi canda tawa. Nampaknya dia gak terlalu segan lagi ke aku. Dia udah nampak lebih santuy dari sebelumnya.
Aku pun nanya habis ini dia kemana. Tapi nampaknya dia bingung harus kemana. Gak ada jawaban keluar dari mulutnya.
Akhirnya aku pun menawarkan tumpangan ke dia. Aku bilang dia bisa menginap di kostku. Aku bilang dia gak usah takut ke aku, sebab aku adalah laki-laki baik-baik yang hanya niat menolong aja.
"Aku bukan orang jahat. Kalau gak keberatan, nginap di kostku aja. Besok aku antar kamu pulang!", ucapku.
Kami pun beranjak dari tempat duduk Rumah Makan itu. Kami melaju menuju kostku.
Sampai di kost aku persilakan dia masuk dan duduk.
"Aku bisa tidur disini aja, kamu di kamar!", ucapku ketika kami duduk di ruang depan.
Aku pun kembali menguap.
"Udah ngantuk ya, Bang.", ucapnya.
"Udah dari tadi sih.", ucapku.
"Tidur aja yuk, Bang.", ucapnya.
Aku pun bawa dia ke kamar dan nyiapin tempat tidurnya, lalu aku bergegas keluar kamar.
"Tidur disini aja, Bang.", ucapnya.
Aku menoleh ke belakang dan menatapnya.
"Disini aja kita, Bang!", ucapnya lagi.
Aku pun mengguman dalam hati. Apakah ini sesuai dengan yang di dalam benakku?
Karna jujur aja, meski aku niat baik dari awal, sebagai lelaki normal aku juga pengen dengan dia.
Aku memang suka modusin ceue-ceue begituan. Kali aja bisa ku olah. Tapi gak mungkin dong aku langsung terburu-buru atau gegabah. Aku harus bisa tenang dan santuy.
Akhirnya aku pun tidur bareng dengan dia di kamar itu. Tapi kami masih ngobrol-ngobrol sambil saling menatap.
Aku udah pengen mencoba godain dia. Tapi mau gak dia ya? Jangan-jangan dia malah marah dan minta pengen pulang aja. Tapi itulah yang pengen aku tau itu.
Mata kami pun gak terus saling menatap. Akhirnya aku seperti tau dari sorot matanya kalau dia mau. Aku pun seakan mengirim pesan lewat mataku, kalau aku pengen malam itu.
Akhirnya sambil ngobrol, aku makin deketin wajahku ke wajahnya. Ku belai rambutnya yang panjang itu sambil meliat reaksi dia. Dia tampak tenang sambil menatap ke langit-langit kamar.
Aku pun mengusap pipinya dan perlahan mencubitnya dengan geram. Dia pun senyum merespon cubitanku itu.
Akhirnya tanganku pun makin ramah dan menyentuh seluruh pipinya. Kini tanganku pun bergerilya hingga ke lengan, leher, dan dadanya. Dan kini tanganku ku biarkan terletak diatas dadanya.
Sambil terus ngobrol denganku, dia menggenggam telapak tanganku yang berada di dadanya itu.
Akhirnya aku pun menggerakkan tanganku hingga menyentuh-nyentuh payud4ranya.
Gak ada perlawanan dari dia. Dia pasrah aja ku gituin. Tanganku pun makin meremas-remas payud4ranya itu dengan serius.
Aku udah horni. Dan si joni ku pun udah bangun.
Tanganku pun gak cuma bermain di payudaranya. Melainkan turun terus hingga ke perutnya. Lalu ke bagian bawah pusatnya.
Aku menggrepe bagian selangkangannya yang terbungkus celana jeans panjang itu. Lalu ku raih tangannya dan ku letakin ke arah anuku. Langsung aja dia meraba dan meremas.
"Udah bangun!", ucapnya dengan senyum sambil menatapku.
Aku gak berani liat ke wajahnya. Aku udah gemeteran. Tapi jemariku tetap bermain di area selangkangannya.
Lalu tanganku menyusup ke dalam t-shirtnya dari bawah. Kini tanganku udah berhasil menyentuh bra-nya.
"Buka aja, Bang!", ucapnya.
Aku pun menyingkapkan t-shirtnya keatas hingga nampaklah payud4ranya yang berbalut bra warna krem itu.
Lalu aku langsung mengeluarkan buah dadanya dari balik balutan bra itu. Langsung aja ku remas dan ku hisap dengan mulutku.
Dia mendesah menahan nikmat. Sambil terus menggigit put1ngnya, ku pandangi ke wajahnya. Dia bener-bener mendesah dan menutup matanya.
Tangannya pun meraba kemaluanku yang kini gak mau kendor lagi. Lalu aku langsung membukain celana jeans yang ku kenakan. Sekarang aku cuma pakai CD dan tentunya masih pake t-shirt di hadapannya.
Ku tempelin tangannya di CD-ku lalu di remasnya batangku berkali-kali.
Dia pun duduk dan melepaskan t-shirtnya dan juga bra yang melilit di tubuhnya.
Aku pun netek ke payud4ranya lalu ku suruh dia buka celana.
Dia pun langsung bergegas berdiri dan melucuti celana jeansnya.
Aku pun memperhatiin tubuh mulusnya yang kini cuma di balut celana dalam warna pink itu.
Gak pake lama, aku langsung meraba belahannya dan memainkan jemariku disana.
Gak brenti disitu, aku pun menggesekkan wajahku disana. Sementara tanganku meremas kedua pant4tnya dari belakang.
Aku pun berdiri dan memeluk dia. Ku gesekkan seluruh tubuhku ke tubuhnya. Pelukanku makin ku eratkan. Dan wajah kami saling menempel.
Lalu tanpa ada aba-aba sama sekali, kami pun bercip0kan. Ternyata tuh ceue pinter banget cip0kan. Dia mampu mengimbangi permainan lidahku. Dia menyedot dan menggulung lidahku berkali-kali sambil terus mendesah.
Lalu aku meraba kembali selangkangannya dengan masukin tangan kiriku ke dalem. Aku bisa merasakan lebatnya jem8utnya. Sementara mulut kami masih tetap cip0kan.
Dia pun gak mau kalah. Di rabanya burungku dengan menyusupkan tangannya melalui karet di pinggangku.
Alhasil dia berhasil menggenggam batang kemaluanku yang udah begitu kenceng.
Dia pun mengocok-ngocok batangku di dalam CD itu dan juga meremas bijiku.
Lalu aku pun menurunkan CD-ku hingga jatuh sampai pergelangan kakiku.
Kini batangku yang teramat keras itu begitu tegak dan tegas berdiri di hadapannya.
Langsung aja di genggamnya kuat-kuat dan di kocokinnya maju mundur.
Dia pun menunduk dan akhirnya terduduk di springbed itu sambil terus ngocokin batangku.
"Jangan cuma di kocokin aja!", ujarku.
Lalu dia pun langsung melahap burungku ke dalem mulutnya. Dia mengisep burungku beberapa kali angguk.
Aku pun membelai rambutnya sambil menikmati dia nge-blow job punyaku.
Ku akui dia gak pinter nge-blow job. Apalagi dia sering brenti-brenti dan nampaknya kurang serius. Sesekali di jilatnya bagian kepala kemaluanku, setelah itu brenti lagi.
"Jilat bijinya!", ucapku.
Lalu aku merenggangkan pahaku, dan dia pun menjilat bijiku. Belum sempat ku nikmati gelinya jilatan lidahnya di bijiku, dia udah keburu ngentiin jilatannya.
"Lagi lah...!", pintaku.
"Gak suka aku, Bang!", ucapnya.
Dia pun berdiri dan menanggalkan CD-nya. Sehingga aku bisa meliat jelas gundukan di selangkangannya yang di penuhi bulu-bulu yang super lebat.
"Masukin ajalah, Bang!", ucapnya.
Aku pun langsung meraba belahan di selangkangannya. Ku mainkan terus jari tanganku disana dalam posisi dia berdiri dan aku terduduk.
Lalu aku pun merebahkannya di atas springbed. Lalu dia pun langsung telentang melebarkan pahanya.
Aku pun langsung menyibakkan belahan labia mayora miliknya serta memainkan jariku disana.
Sekian lama aku mainin jariku disana. Sehingga dia pun harus menggelinjang hebat di atas kasur itu.
Ku masukin jari manisku ke dalam lobangnya dan ku cucuk-cucukkan keluar masuk.
"Aaaahhhh.... ahhh..... ohhh....!"
Dia merintih sambil merem melek.
"Enak sayang?", tanyaku.
"Iya, sayang.... owwhhh....!", jawabnya.
Aku pun udah horni banget. Gak ku biarkan dia brenti mendesah. Makin mendesah, makin membabi buta aja aku nyongkel-nyongkel lobang vag1nanya.
Bahkan kini, aku udah masukin dua buah jariku ke dalem, yaitu jari manis dan jari tengahku. Dia pun makin meringis yang kuat. Dia menghentak-hentakkan kakinya ke kasur. Dia menggelepar bagai bebek yang kena potong lehernya.
Aku pun makin menggila. Ku bantai terus nyucukin jariku ke dalem. Aku nyucukinnya begitu kasar sampai dia meronta seperti kesakitan. Sakit campur enak pastinya tuh.
Aku pengen ngerimming vag1nanya, tapi aku gak brani. Ya udah cukup pake tangan aja dulu sebelum pake burungku.
Lalu aku pun berniat masukin burungku ke dalam. Karna ujung-ujung kemaluanku udah dari tadi basah ngeluarin cairan lengket dan bening.
Aku pun mengarahkan kepala burungku ke lobang kemaluannya. Lalu aku menekan ke dalem. Begitu gampang masuknya. Ku goyang-goyang terus hingga batangku keluar masuk sampai pangkal.
Dia mendesah, dia merintih. Di raihnya mulutku agar kami cip0kan. Ternyata dia suka banget di cucuk sambil cip0kan.
Ku cabut batang kemaluanku dan ku pratiin lobangnya yang basah dan menganga itu. Lalu ku celupin lagi batangku dan ku genjot keluar masuk.
"Enak gak?", tanyaku.
"Enak sayang!", jawabnya.
Ku angkat kedua kakinya keatas dan ku tumpukan di kedua bahuku. Lalu kembali ku hantam lobang kenikmatannya secara membabi buta.
Bener-bener masuk semuanya tanpa sisa. Aku pun mengerang beberapa kali pertanda nikmatnya lobang miliknya.
"Telungkup!", ujarku.
Dia pun langsung nurut. Lalu ku suruh dia nungging dan ku bantailah lobangnya dari belakang. Nikmatnya warbiyazah!!!
Ku bolak balik lagi tubuhnya hingga kembali telentang.
Ku buat dia nyamping dan ku angkat kakinya sebelah keatas. Posisi kakinya itu menempel di perut hingga dadaku.
Aku pun gak kuasa lagi menahan sp3rmaku. Aku udah mau crot. Pengen ku tahan sih, tapi ku putusin aja gak usah menunda lagi.
Begitu makin terasa memuncak rasa geli dan nikmat di bagian burungku, aku makin mempercepat gerakanku. Ku pacu terus dengan gerakan yang kuat.
"Owwhh.... owhhhhh.... ahhh.....!"
Aku pun akhirnya crot. Aku crot di dalem lobang vag1nanya. Semua ku tumpahkan di dalem. Ku tahanin batangku di kedalaman.
Ku hentikan gerakanku dan ku rasakan sensasi denyutan burungku ngeluarin p3juhku hingga tetes terakhir.
Batangku menggentak-hentak di dalam lobang si ceue.
Lalu setelah sekian lama ku tahan di dalem, aku merasakan batangku mulai lemes.
Aku pun nyabut batangku yang udah terkulai lemes itu.
----------------------------------------------------------------------
Begitulah sampai kami lakukan hingga 3 ronde di malem itu. Dan setelah ronde ketiga kami selesai, jam udah nunjuk angka 3.
Setelah kami bersih-bersih ke kamar mandi dan memasang pakaian, dia nyuruh aku nganter dia ke sebuah tempat.
Katanya dia harus pulang malam itu juga karna ada urusan penting.
Aku pun akhirnya nganter dia ke sebuah tempat yang berjarak 7 km dari kostku.
Daerah itu merupakan jalan lintas yang dilalui oleh truck-truck gede dan juga bus.
Jalan itu udah biasa banget ku lalui. Bisa dibilang hampir tiap hari aku pasti lewat sana.
Pada jam 3 subuh suasana disana sepi karna disana masih lebih banyak kios-kios kecil yang terbuat dari papan berupa bengkel-bengkel truck dan ruko-ruko yang masih kosong.
Tiba-tiba dia menyuruh aku brenti karna dia sesak pipis. Aku pun ngentiin motorku tepat di bawah rindangnya pohon angsana. Dia pun turun dari motorku dan menepi.
Tanpa segan aku meliat dia yang berjalan menjauh dan terduduk sambil menurunkan celana jeansnya.
Terdengar olehku suara pipisnya memancar ke tanah. Lalu aku pun menjauhkan pandanganku dan mengaca wajahku ke spion motorku.
Lalu aku gak lagi mendengar suara pipisnya. Aku pun menoleh ke arah dia, ternyata dia udah gak ada.
Aku pun menyapu sekelilingku dengan mataku. Tapi aku gak lagi nemuin dia.
Aku heran dan bingung kemana dia pergi. Soalnya gak ada jalan kemana-mana disitu. Jarak dia dari aku cuma 1,5 meter. Dan 30 cm di depan dia berupa parit besar yang lebarnya sekitar 3 meter dengan kedalaman sekitar 2 meter. Parit itu di tembok dengan rapi.
Aku pun memanggil-manggil dia sambil terus memandangi ke sekeliling.
Lalu ku nyalakan flash gadgetku dan ku senterin ke bawah parit. Tapi aku gak ngeliat dia.
Kebetulan suasana disana cukup terang oleh cahaya lampu jalan. Jadi tanpa di bantu flash dari gadget pun akan terlihat ada orang atau gak di bawahnya.
Aku pun gak percaya dengan apa yang terjadi. Lalu aku pun berjalan menyebrangi parit dengan berjembatankan tiang coran penghubung/penguat yang menghubungkan sisi kiri dan kanan tembok.
Di seberang sana ada kebun kapulaga yang cukup terawat. Namun gak ada pemukiman penduduk disitu.
Aku pun kembali ke seberang menuju motorku.
Lalu para pemotor menyapaku atau pun mengkleksonku.
Ku stop beberapa pengendara yang melintas tapi mereka enggan brenti karna mungkin takut aku ini begal.
Lalu seorang Bapak-Bapack paruh baya dengan motor Astrea Grand melintas pelan-pelan secara perboden dengan joran di tangannya.
"Pak!", sapaku dengan senyum.
"Mancing ya?", tanyanya sambil brenti 2 meter dari motorku.
Aku pun langsung nyamperin dia dan ngajak dia ngobrol-ngobrol.
Awalnya nanya udah dapet ikan atau belom, trus nanya tinggalnya dimana.
Setelah itu barulah aku ceritain apa yang ku alamin barusan.
Dia juga kaget dan bingung dengan pengakuan aku.
"Gak masuk akal kalau dia tiba-tiba ngilang, mas.", ucap si Bapak ke aku.
"Aku pun udah puluhan taun mancing disini, gak ada yang aneh-aneh disini!", tambahnya.
Tapi dia gak menampik kalau bisa aja ceue yang bersamaku tadi bukanlah manusia biasa.
Aku pun auto merinding dong.
"Masa' sih, Pak? Kami udah dari jam 3 sore lho ketemu. Bukan ketemu malem-malem gini di tempat-tempat sepi.", ucapku.
"Bapak juga bingung, Mas. Bapak percaya cerita mas, tapi kok bisa tiba-tiba ilang kalau dia manusia asli. Kemana dia secepat itu!", ucap si Bapack.
"Aduh. Jadi takut aku Pak. Padahal kami udah main di kostku sampai 3 ronde Pak. Aneh aja kalau dia bukan manusia!", ujarku.
"Kamu pake dia?", tanya si Bapak sambil menatap mataku.
"Ho oh!", ucapku sambil menganggukkan kepala.
"Sampai tiga kali nembak kamu tadi?", tanyanya.
"Iya, Pak.", jawabku.
Lalu kami pun cerita-cerita terus di tempat itu tentang ceue tadi.
Gak jarang aku harus mengusap kedua tanganku karna merinding.
Untungnya si Bapak gak penakut orangnya. Sehingga kami gak perlu menjauh dari tempat itu. Sambil memasang mata kailnya ke dalem parit, dia terus ngobrol dengan aku.
"Bapak percaya hal-hal begituan ya?", tanyaku.
"Sebetulnya kurang, mas. Tapi kalau emang kenyataannya begitu. Itu kan agak ganjil ya. Jadi mau gak mau pikiran kita kesana larinya.", jelasnya sambil meminta sebatang rokok dari aku.
"Tapi Bapak percaya kan ceritaku itu bener dan gak boong?", tanyaku.
"Aku percaya mas. Kan mas juga nyeritainnya tadi agak gugupan dan tegang mukanya.", ujarnya.
"Iya, Pak. Ini beneran, Pak. Buat apa juga aku boong.", ucapku.
"Selama kamu sama dia tadi, kamu gak ada merasa agak-agak aneh gitu, mas?", tanyanya.
"Gak ada, Pak. Soalnya dia nyata, Pak. Pakaiannya biasa aja. Bukan pake gaun pengantin atau kebaya kayak di film-film horor itu.
Lagian jumpanya juga masih di jam wajar dan di tempat wajar.
Bukan di jalan sepi yang gelap atau di tempat-tempat yang gak masuk akal kayak di film-film itu!", jelasku.
"Aku pun tau Pak. Kalau seandainya di jam segini ada ceue cantik berdandan ala pengantin atau pakai kebaya dan sanggul berdiri di tepi jalan, itu mungkin hantu.
Karna gak masuk akal ada ceue asli berdandan kegitu di jam segini.
Tapi kan ini bukan. Dia pake kaos oblong sama celana jeans.", tambahku.
"Oh, dia pake celana levis ya?", tanya si Bapak.
"Bener, Pak!", sahutku.
"Kok bisa ya. Kalau orang, kemana dia pergi. Gak masuk di akal juga kemana tiba-tiba gak ada!", ucap si Bapak sambil narik jorannya.
"Dia gak cantik-cantik amat Pak. Dan dia gak wangi.", jelasku.
"Siapa dia ya. Kalau bukan orang, ngapain kayak gitu ke manusia.", ucapnya.
"Iya, Pak. Aku bener-bener gak habis pikir dengan peristiwa ini. Aku yang ngalamin sendiri aja kayak gak percaya, Pak. Tapi ini kenyataan, Pak!", ujarku.
"Mudah-mudahanlah kamu gak papa, mas. Berdoa aja sesuai keyakinan kamu. Bapak mau pindah dulu.", ucapnya.
"Iya, Pak. Makasih udah cerita-cerita samaku Pak. Ok lah. Aku mau pulang aja, Pak.", ucapku.
"Iya, mas. Hati-hati, ya.", ucapnya.
"Iya, Pak. Makasih.", ucapku sambil ngidupin sepeda motorku dan berlalu dari tempat itu.
Di jalan aku masih kepikiran dengan kejadian itu. Aku bener-bener dibuat bingung. Ini sih udah zaman canggih. Udah taun 2022, tapi kok masih ada aja pengalaman aneh gitu ya.
Tapi syukurlah, habis kejadian aneh itu aku gak ada kenapa-kenapa. Aku baik-baik aja dan gak pernah di teror oleh kejadian-kejadian atau hal-hal yang ganjil.
Tamat.
Komentar
Posting Komentar