π™π™€π™π™‰π™”π˜Όπ™π˜Ό π™‰π˜Όπ™Žπ™„ π™ƒπ˜Όπ™‰π™π™ 𝙄𝙏𝙐 π™‰π˜Όπ™Žπ™„ 𝙆𝙐𝙉𝙄𝙉𝙂

Penulis : Ando Lan



Kala itu sedang musim penghujan. Sehingga jamur pada tumbuh atau bermunculan.

Pergilah dua orang Ibu2 paruh baya mengambil jamur yg tumbuh di batang pohon kemiri yg udah ditebang dan mulai membusuk.

Kemiri itu tumbuhnya di tepi sungai berbatu. Batangnya udah besar sekali dan tumbuhnya berdekatan.


Awalnya mereka masih ngobrol berdua sambil tangan terus memetik jamur.

Tapi perlahan mereka terpisah di batang kemiri yg berbeda.

Mereka pun asik ngumpulin jamur2 ke dlm keranjang masing2 utk dimasak nanti dirumah. 

Setelah sekian lama memetik jamur dan merasa udah cukup utk dibawa pulang, Bu Artha memanggil Bu Netty, temannya agar mereka pulang.

Tapi Bu Netty gak menyahut dari batang kemiri yg satu lagi.

Bu Artha terus memanggil temannya itu tapi gak prnh menyahut.

Akhirnya Bu Artha menemuinya ke batang kemiri yg satu lagi.

Tapi Bu Artha gak melihat Bu Netty disana.

Dia me-manggil2 dengan mengelilingi lingkaran pohon kemiri itu, tapi Bu Netty gak ada lagi disana.


Bu Artha berpikir sejenak, apakah mungkin Bu Netty udah pulang duluan?

Tapi gak mungkin dia pulang diam2 meninggalkannya sendirian disana.

Itu gak mungkin!

Lalu Bu Artha me-manggil2 terus berharap Bu Netty mendengar dan menjawabnya.

Suara Bu Artha pun menggema di lereng bebukitan tinggi, hingga terdengar ber-sahut2an. 

Gak ada suara Bu Netty yg kedengaran, selain suara Bu Artha sendiri yg terpantul bersahutan. 

Karna posisi Bu Artha di dasar jurang, yg di pagari bebatuan yg mengapit sungai berbatu.

Memang tempat itu luas dan terang. Sinar matahari dgn bebas memancar kesana.

Bu Artha pun bingung kemana perginya Bu Netty.

Dia udah capek manggil2 tapi Bu Netty gak keliatan.

Bu Artha memutuskan utk pulang aja utk memberi tau kejadian itu ke warga.


Tiba2 Bu Artha dikejutkan oleh sesuatu yg terlihat oleh matanya.

Sendal jepit yg tadi dipakai Bu Netty mengapung di sungai.

Bu Artha pun kaget bukan kepalang, membayangkan Bu Netty terjatuh di sungai.

Lalu diapun bergegas turun ke sungai dan melihat dimana Bu Netty berada.

Sungai itu memang dangkal dan airnya gak deras.

Bu Artha pun menyusuri sungai hingga 250 mtr ke hilir.


Tiba2 Bu Artha merinding dan merasakan sesuatu yg angker disana.

Dia pun beranjak dari dalam air dan dengan penuh ketakutan, dia berjalan meninggalkan tempat itu.

Bu Artha makin merinding membayangkan ada sesuatu yg gak beres.

Tapi dia gak mampu berlari biar segera bisa berlalu dari tempat itu.

Tenaganya udah gak mampu utk berlari. Berjalan cepat aja udah gak mampu sebenarnya. 

Terkadang kakinya tersandung oleh akar2 pohon.

Di perjalanan pulang Bu Artha dikagetkan oleh suara2 di sekitarnya.

Termasuk bunyi dahan kering yg jatuh dari pohon2 besar yg menjulang tinggi.

Suara gesekan pohon bambu betung yg tumbuh rapat, dan juga suara monyet ber-ayun2 di akar2 pohon yg menjuntai kebawah.

Bu Artha keringat dingin dgn wajah pucat pasi menaiki anak tangga dari dasar lembah hingga berhasil tiba diatas.

Dia pun mengigil menceritakan ke warga bahwa Bu Netty hilang.

Semua warga pun panik mendengar cerita Bu Artha tsb.

Lalu semua Bapak2 segera terjun ke TKP.

Mereka menyusuri sungai secara berkelompok. 

Mereka juga mengusuri hutan2 di kiri dan kanan sungai, tapi gak berhasil menemukan Bu Netty.


Hari udah mulai gelap, akhirnya pencarian pun dihentikan.

Mereka sepakat, pencarian akan dilanjut esok hari.

Tapi besoknya pencarian juga gak membuahkan hasil.

Warga udah menyusuri semua sungai dan hutan, gak juga menunjukkan tanda2 keberadaan Bu Netty.

Akhirnya warga pun sepakat menggunakan jasa dukun.

Dan dukun pun gak bisa menerawang dimana keberadaan Bu Netty sekarang.

Tapi dukun bilang, Bu Netty udah dibawa oleh makhluk halus ke tempat mereka.

Dan msh menurut dukun tsb, bahwa utk saat itu Bu Netty msh hidup, namun sedang di siksa oleh para makhluk halus yg membawanya.

Keluarga Bu Netty pun hanya bisa berdoa utk keselamatan Bu Netty.

-----------------

Maaf, di kampung kami memang kalau ada kejadian2 terkait mistis msh lbh mengandalkan dukun drpd Tuhan.

Mungkin pembaca akan menganggap pemikiran warga kami msh kolot, primitif, dan spt gak beragama.

Kok percaya dukun dan memakai jasanya pula. Tapi itulah realitanya.


Tapi bukan apa2, dari sisi agama, blm ada jg yg bs di andalkan utk menangani kasus tsb.

Padahal ada 2 agama yg dianut warga kampung kami.

Tapi gak satu orangpun dari kedua agama tsb yg berani atau punya kemampuan memecahkan masalah tsb.

Bahkan pemimpin spiritualnya sekalipun.

Sebut saja di agamaku. Pendeta kami sendiri merasa gak mampu utk menangani kasus semacam itu.

Gak tau apa sebabnya, apa gak diajarkan ilmunya di sekolah tmpt beliau menuntut ilmu dulu atau gimana.

Padahal Pendeta2 yg lain kayak yg ada di tivi2 bnyk yg bs menangani kasus spt itu.

Untuk Kristen sendiri, banyak sekte atau aliran yg dianut warga kampung kami.

Mulai dari ortodoks sampai kharismatik. Tapi sepertinya gak satupun yg merasa mampu menanganinya.

Sehingga gak satupun jg melarang menggunakan utk jasa dukun.

Entahlah!


Jadi kalau boleh dibilang, seperti percuma kita ini beragama dan mengaku mengandalkan Tuhan.

Kenyataannya gak begitu.

Sedih sih melihat kenyataan yg begini.

Tapi itulah sedikit penjelasan mengapa msh aja memakai jasa dukun menghadapi yg beginian. 

Beragama msh formalitas. 😭

---------------

Dua minggu lamanya Bu Netty hilang gak ketauan dimana rimbanya.

Setelah itu terdengarlah suara me-manggil2 sambil me-nangis2 di tengah2 sebuah ladang.

Suara itu pertama kali di dengar oleh sekeluarga yg sedang menanam padi di sawahnya, yg kebetulan gak jauh dari sumber suara.


Mereka pun ngasih tau ke warga lain yg memetik buah kopi di sebelah sawah mereka.

Mereka pun sama2 memasang telinga baik2 utk mendengar suara tsb.

"Itu bukan suara orang!" Ucap salah seorang dr mereka.

"Ah, kau!" Sanggah yg lain.

"Kayak suara minta tolong!" Ucap yg lain.

"Kayak suara Bu Netty, orang Desa Sugari!" Ucap salah seorang dr mereka.

"Yang hilang di sungai itu?" Tanya yg lainnya.

"Iya benar!" Jawabnya.

"Wah, itu hantunya mungkin!" Ucap Rudy.

"Iya. Itu pasti hantunya. Gak mungkin dia msh hidup skrg." Ucap Arya.


Mereka pun ketakutan menyangka itu hantunya Bu Netty.

Lalu mereka menyampaikan hal itu ke warga lain, hingga membuat warga berkumpul merencanakan sesuatu.

"Manalah mungkin itu hantu, itu suara orang.

Ayok kita dekati. Biar gak menduga2 yg gak jelas!" Ucap salah seorang Bapak2.


Dengan sigap para Bapak2 menyisir ladang mendekati ke arah suara itu berasal.

Tibalah di suatu ladang jagung di dekat sebuah mata air.

Mereka menemukan Bu Netty sedang duduk di tanah sambil menangis dan ber-teriak2.

Para Bapak2 makin mendekat dan merapat ke Bu Netty.


"Tuh, kan benar Bu Netty." Ucap Bapak yg pertama kali ngajak nyari sumber suara tadi.

"Bukan, itu bukan dia." Jawab Bapak yg lain. 

"Liat mukanya menyeramkan! Masa' seluruh badannya luka2 separah itu tp msh hidup. Ini penampakan gak?" Ucap Bapak yg lain.

"Ngeri!" Ucap yg lain.


Mereka memanggil nama Bu Netty ber-kali2.

Ternyata Bu Netty melihat ke arah mereka dan menyahut sambil menangis.

"Kau ini Bu Net?" Ucap Pak Jono.

"Bu Netty.. Bu Netty!!" Ujar yg lain.

"Tolong aku Pak. Tolong aku...!" Jawab Bu Netty sambil mengulurkan tangannya.


"Benaran ini kau Bu Net?" Tanya Pak Herman ragu.

"Iya, Pak! Ini aku. Tolonglah aku Pak. Aku udah hampir mati." Ucap Bu Netty.

Lalu mereka menyentuh Bu Netty dgn jongkok berkeliling.

Pertanyaan pun di ajukan ber-tubi2 ttg dari mana dan kenapa Bu Netty.


"Syukurlah pada Tuhan, Pak. Aku msh selamat. Kalau bukan karna Dia, aku gak akan selamat lagi.

Ngeri kali yg kualami selama ini mereka buat." Ungkap Bu Netty

"Siapa mksdnya Bu?" Tanya Pak Joy

"Hantu, Pak. Hantu yg membawa aku!" Ucap Bu Netty.


Badan Bu Netty kini udah sngt kurus dan sngt lemah.

Sekujur tubuhnya penuh luka. Bahkan sampai ada yg berulat.

Itulah saking lamanya Bu Netty terbuang dan di siksa oleh para makhluk halus tsb.

Para warga lgsg menggotong Bu Netty keluar dari ladang menuju kampung.


Ada yg lgsg memberinya minum air putih.

Bu Netty pun mendapat perawatan intensif di puskesmas.

Seluruh luka2 ditubuhnya di bersihin dan dikasih obat serta dibalut.

Lalu Bu Netty pun langsung dikasih makan agar perutnya bisa berisi kembali.


Warga pun tak henti2nya nanyaian Bu Netty perihal kejadian yg menimpanya.

Dan dia pun menceritakan semuanya secara detail.

Bahwa ketika mereka ngambil jamur itu, dia di sesatkan oleh beberapa makhluk halus.

Dia dibawa ke kediaman mereka dan akhirnya di siksa.


Awal mulanya tiba2 dia melihat ada jalan yg sngt lebar dan bagus di dpn matanya, mulus bagaikan jalan tol.

Jalan itu dihiasai aneka bunga2 cantik, indah, dan mewangi.

Diapun kagum akan pemandangan itu.

Banyak wanita cantik tersenyum ramah penuh persahabaatan ke dia.


Lalu dia seperti di persilakan utk menapaki jalan itu, sehingga dgn senang hati dia berjalan di jalan itu.

Yang dia rasakan adalah suasana sejuk dan menenangkan.

Semua terang bagaikan siang tapi gak ada matahari di atas awan.

Dia di iringi wanita2 itu di sampingnya.


Tiba2 semuanya berubah.

Gak ada lagi jalanan yg lebar dan bunga indah itu.

Yang ada dia sedang di tuntun menyusuri bebatuan di sungai menuju hilir.

Dia melihat beberapa makhluk yg tadi berupa wanita2 cantik kini berubah jadi wanita2 tua dgn wajah yg menyeramkan.

Walau nenek2 tapi tubuhnya masih sangat kuat dan gesit.


Sebagian dari mereka memarahinya karna dia berjalan terlalu lambat.

Dia pun dipaksa terus berjalan lbh cepat hingga kakinya terantuk ke bebatuan.

Beberapa kali Bu Netty hrs menahan rasa sakit tersandung batu dan tertusuk semacam duri atau benda2 tajam di dasar sungai.


Dia di seret terus hingga seluruh kakinya tergores ke batu dan kayu2 yg nyangkut di sungai itu.

Bu Netty meronta dan berusaha melepaskan diri, namun dia gak bisa.

Tenaganya gak mampu melawan kumpulan makhluk halus yg menyeretnya.

Bu Netty pun menangis tanpa henti.


Sebagian dari makhluk itu ketawa jahat ke Ibu Netty.

Mereka mengatakan Bu Netty lemah dan gak berguna.

Mereka pun menampari dan mencubiti Bu Netty sambil terus menyeretnya ke hilir sungai.

Bu Netty akhirnya terjatuh dan gak bisa bangkit lagi.

Lalu makhluk itu menendangnya.

Setelah itu tangannya di tarik2 hingga tubuh Bu Netty terseret melindas apa aja yg ada di sungai. 

Makhluk2 itu gak peduli tubuh Bu Netty kena kayu, bambu, atau apapun yg menghalang disana.

Dia tetap di seret hingga badannya tergores dimana mana.

Tenaga Bu Netty pun habis.


Dia gak kuat lagi. Bahkan utk menangis pun dia gak punya tenaga lagi.

Lalu makluk itu membalikkan tubuh Bu Netty. Kini mereka menyeret kakinya, sehingga kepala Bu Netty terantuk dan tergores ke batu dan kayu2 yg nyangkut disana.

Wajah Bu Netty pun luka2 dan ber-darah2.


Belum lagi Bu Netty hrs menelan air yg begitu banyak masuk ke dlm mulut dan hidungnya. 

Semampunya dia menggunakan kedua tangannya utk bertumpu ke dasar sungai atau bebatuan yg di lalui agar kepalanya gak kerendam terus di dlm air.

Dia gelagapan dan kesulitan nafas.


Tibalah di satu titik, para makhluk halus itu berhenti menyeret tubuh Bu Netty.

Mereka mencampakkan tubuh Bu Netty ke atas bongkahan batu besar.

Lalu tiba2 Bu Netty melihat dia seperti berada di sebuah rumah.

Karna ada atapnya sehingga dia gak bisa melihat ke langit biru.


Bu Netty memandangi sekelilingnya.

Pondok itu berdindingkan gedek dan beratapkan ijuk serta daun ilalang.

Lantainya jg dari gedek. Pdhl td dia dibaringkan diatas batu.

Kini benar2 berada dlm sebuah gubuk yg sngt luas dan nampak baru.

Masih tercium oleh Bu Netty aroma daun lalang yg baru kering dan jg warnanya yg msh kuning kehijauan.

"Inilah rumah kita. Kau akan tinggal disini dgn kami." Ucap slh seorang makhluk itu ke dia.

"Kau suka gak tinggal dirumah ini?" Tanya yg lain.

Tapi Bu Netty gak menjawab.


"Dimana aku? Tolong lepaskan aku!" Ucap Bu Netty.

"Kau gak akan bisa lepas dr kami lagi. Duniamu akan kami ubah. Kau akan sama seperti kami." Ucap makhluk yg lain.

"Lepasin aku! Aku mau pulang!" Ucap Bu Netty. 

"Kau gak akan tau jalan pulang lagi." Kata yg lain.


"Gak! Aku gak mau disini. Aku mau pulang!" Ucap Bu Netty.

Lalu dia di gampar slh seorang dr makhluk itu. 

"Kau jgn melawan. Hidupmu ditangan kami skrg!" Ujarnya.

"Kasih dia makan!" Ujar yg satu lagi.

"Ayo kita makan sama2 aja." Ujar yg lain.


Lalu para makhluk halus itu sibuk menyiapkan makanan.

Mereka sngt kompak mengambil kegiatan masing2.

Bukan utk memasak, tapi tinggal mengambilkan makanan yg udah tersedia di dapur.

Ada yg mengangkat bakul besar dari anyaman bambu berisi nasi.

Nasinya adalah nasi kuning.


Bu Netty heran melihat nasi mereka itu adalah nasi kuning.

Nasi yg dimasak dgn kunyit seperti nasi tumpeng.

Lalu mereka pun makan dan memaksa Bu Netty ikut makan.

Namun Bu Netty menolak utk makan nasi kuning tsb.


Mereka pun marah karna Bu Netty gak mau menuruti mereka

Ada yg berusaha membukakan mulut Bu Netty. Ada yg berusaha menyuapkan nasi kuning ke mulut Bu Netty.

Tapi Bu Netty tetap mingkem dan berontak. Sehingga gak satu butirpun nasi masuk ke mulutnya dan tertelan.

Para makhluk itu pun marah dan memukuli Bu Netty.

Mereka terus memukuli Bu Netty dan mengancam akan membunuhnya.

"Kau harus makan nasi ini, biar kau bisa jd warga kami!" Ucap makhluk tsb sambil menjambak rambut Bu Netty.

Mendengar itu Bu Netty makin ketakutan dan bertekad supaya jgn sampai mau makan nasi kuning itu.


"Makan! Cepat! Kalau gak, kau akan kami siksa lbh kejam lagi!" Ancam seorang dari mereka.

Setiap gak mau di suruh buka mulut, mereka menyiksa Bu Netty.

Bu Netty pun menangis dan gak sanggup melawan mereka.

Sesekali Bu Netty memohon agar mereka melepaskannya.


Kini tubuh Bu Netty gak karuan lagi dgn luka dimana mana.

Lukanya sngt mengerikan. Kepalanya bocor, bibirnya robek, dagunya pecah, pipinya luka parah.

Begitu juga dada, perut, punggung, tangan, paha, serta kakinya.

Gak ada yg gak luka dan berdarah. Sadis memang makhluk2 itu.


Darah segar pun merembes dari dlm tubuh Bu Netty. Kini sekujur tubuhnya bersimbah darah.

Tapi makhluk2 itu gak henti2nya menyiksanya karna Bu Netty masih keukeuh utk gak makan. 

Mereka gak punya rasa kasian.

Mereka terus menyiksa Bu Netty supaya mau makan.


Lalu makhluk itupun makin marah dan me-mukul2kan tubuh Bu Netty diatas batu.

Dengan ringannya mereka mengangkat tubuh Bu Netty dan memukulkannya ke batu.

Bak ibu2 yg nyuci baju di sungai yg membanting celana jeans ke permukaan batu, begitulah mereka memperlakukan Bu Netty.


Alhasil luka di tubuh Bu Netty makin parah. Luka robek dimana mana dan mengeluarkan darah yg makin deras.

Bu Netty gak berdaya lagi.

Matanya pun gak bisa terbuka lagi. Suaranya pun gak keluar lagi.

Kini dia diam gak bisa teriak kesakitan lagi.


Para makhluk itupun muak dgn Bu Netty. Mereka gak suka lagi dgn Bu Netty.

"Buang aja dia. Aku gak suka lagi liatnya!" Ujar pimpinan mereka.

Lalu mereka pun membuang tubuh Bu Netty ke dlm sungai dan membiarkannya begitu aja.

Mereka gak lagi mempedulikan Bu Netty.


Tubuh Bu Netty pun terbawa arus makin ke hilir dan nyangkut diantara bebatuan.

Gak tau berapa lama Bu Netty disitu, dia gak lagi sadarkan diri.

Dia gak tau lagi apa yg terjadi. Yang dia ingat adalah ketika dia udah siuman.

Dia membuka matanya dan melihat sekelilingnya.


Ternyata dia nyangkut di bebatuan dgn kepala nyandar ke batu menghadap ke atas.

Sedang kakinya berada diatas air.

Posisinya dia spt nyantai terduduk lesehan diatas pasir dan batu2 kecil di dasar sungai.

Dia merasa sngt kedinginan. Diapun sadar dia berada di tengah2 sungai.


Dia memandangi sekelilingnya.

Di sebelah kiri ada rumpun bambu sembilang yg sngt rimbun.

Di sebelah kanannya ada pohon kecapi dan pohon matoa yg sama2 sedang berbuah lebat.

Aku dimana. Gumannya dlm hati.

Lalu dia merasakan sakit dan pedih sekujur tubuhnya.


Dia mengangkat badannya tapi gak bisa. Tenaganya blm cukup utk menggerakkan badannya.

Lalu tiba2 dia teringat akan kisah horor yg baru di alaminya.

Iya, dia benar2 tersadar akan kisah mistis itu. Dan itulah makanya dia berada di sungai itu.

Spontan Bu Netty pun merinding.


Lalu dia pun berusaha agar bisa meninggalkan tempat itu dgn segera.

Dia memang gak melihat lagi ada makhluk2 halus itu di sampingnya.

Tapi dia takut makhluk2 tsb datang lagi menyiksanya.

Tapi dia gak bisa mengangkat badannya sendiri. Lalu konon, dia ingat dgn penciptaNya.


Dia memohon agar di lepaskan dari cengkaram makhluk2 halus itu.

Dia memohon keselamatan jiwa raganya.

Lalu dia melihat buah terap mengapung terbawa arus dari hulu ke arahnya

Buah terap itu nyangkut dibatu tempat dia terduduk.

Dia menggapai buah terap itu.


Buah terap itu udah sngt harum dan lunak.

Bu Netty pun membelah buah itu dgn kedua tangannya dan memakan isinya sampai habis. 

Begitu selesai melahapnya, muncul buah terap satu lagi di hadapannya yg hanyut dari hulu.

Bu Netty pun mengambil dan memakannya.


Akhirnya kini dia punya sedikit tenaga.

Perutnya yg udah lama kosong kini terisi makanan lagi.

Perlahan dia mencoba bangkit walaupun susah sekali.

Dengan merangkak dia pun berusaha menyusuri sungai ke hilir mencari tempat yg landai utk keluar dari sungai tsb.


Dia melihat sekujur tubuhnya penuh dengan luka2 yg menganga.

Luka itu udah membusuk dan bernanah.

Melihat dirinya sendiri aja dia ngeri, gimana kalau org lain melihat dia.

Mungkin gak ada yg percaya kalau dia adalah manusia.

Jangan2 manusia akan takut melihatku, pikirnya.


Tapi dia gak peduli dgn itu. Dia berusaha keluar dari sana, agar ketemu dgn manusia supaya bisa menolongnya.

Dia memungut buah kecapi yg terbawa arus utk di makan sbg penambah energi.

Lalu sampailah dia di tempat yg landai. Matahari pun udah terasa panas menyengat kulit.

Walau baginya panasnya sinar matahari itu belum berarti, sebab tubuhnya udah sangat menggigil kedinginan.


Di sisi sungai di tumbuhi hamparan tumbuhan gelagah dan tanaman pimping.

Bu Netty menyusuri semak belukar itu utk menuju ladang orang.

Sayang, kaki telanjang Bu Netty tertusuk pecahan bambu di rawa2.

Akhirnya dia meringis kesakitan yg teramat sangat.


Dia pun ngesot utk bisa semakin mendekati ladang.

Dengan berpeluh dan ngos2an, dia terus berusaha ngesot meski tapak kaki penuh darah. 

Akhirnya dia pun sampai di sebuah ladang kopi robusta.

Diapun sedikit lega karna udah berada di tengah ladang, buka ditengah hutan lagi.


Tapi dia harus terkapar ke tanah akibat luka dikakinya yg begitu sakit tak tertahankan.

Terlalu deras darah mengalir dari kakinya, mengakibatkan dia kehilangan separuh tenaganya.

Dia gak tau gimana cara menghentikan pendarahannya.

Bu Netty pun terus ngesot.


Dia gak melihat ada orang di ladang itu.

Baru berpindah sekian meter, Bu Netty pun harus sering2 berhenti dan merebahkan tubuhnya ditanah begitu aja.

Setelah merasa bisa melanjutkan, dia pun bergerak terus walau lbh sering berhentinya dari pada bergeraknya.


Untunglah dia melihat tanaman "sijumbak" (kurang tau nama nasionalnya) yg ada di dekatnya.

Dia pun melumatkan daunnya pake tangan dan meneteskan airnya ke dlm lukanya.

Dia melakukannya ber-ulang2 hingga darah berhenti keluar dari lukanya.


Bu Netty terus ngesot dan sesekali merangkak setapak demi setapak.

Tapak kakinya gak bisa menjejak tanah.

Berhentilah dia di tepi ladang jagung.

Dibawah ladang itu adalah hamparan pematang sawah.

Dia merebahkan tubuhnya di tepi ladang jagung itu utk mengumpulkan tenaga.


Disitulah Bu Netty istirahat cukup lama karna tenaganya udah habis dan karna luka2 di sekujur tubuhnya makin terasa sakit.

Dia merasa gak sanggup lagi meneruskan langkahnya hingga ke perkampungan.

Dia pun berteriak semampunya me-manggil2 sambil menangis.


Itulah awal mula ditemukannya Bu Netty oleh warga yg sedang bekerja di sawah dan ladang. 

Semua warga ikut bergidik mendengarkan penuturan Bu Netty yg selama 2 minggu di sandra dan di siksa oleh sekelompok makhluk halus.

Dan akhirnya bisa lepas dan selamat dari mereka.


Semua Ibu2 ikut menangis seperti turut merasakan derita yg dialami oleh Bu Netty. 

Mereka gak bs membayangkan kengerian yg di alami Bu Netty.

Semua jg spt gak percaya Bu Netty bs selamat stlh begitu ngerinya penyiksaan makhluk halus terhadap dirinya.


"Jadi kok bisa selamat gimana ceritanya Bu?" Tanya seorang warga yg ikut berperan menolongnya waktu itu.

"Gak tau Pak, mungkin msh blm waktunya mungkin aku meninggal." Kata Bu Netty.

"Tapi Bu, kenapa kira2 makhluk halus itu tiba2 melepaskan Ibu?" Tanya yg lain.


"Karna aku gak mau makan nasi kuning yg dikasihnya.

Sampai mereka marah dan katanya malas liat aku." Ucap Bu Netty.

"Iya mksdnya kan Bu, kok bs dilepas gt aja. Logika kita, kalau mereka marah justru mungkin akan membunuh gt, Bu." Ujar yg lain. 

"Agak aneh ya!" Tutur yg lain.


"Oh ya, wkt itu aku tiba2 ingat sama Tuhan aja." Aku pun memanggilNya dlm hati." Ucap Bu Netty.

"Alhamdulillah!" Ujar slh seorang warga.

"Puji Tuhan!" Ujar yg lain.

"Berarti karna pertolongan Tuhan ya, Bu!" Ucap Pak Aldo mempertegas.

"Benar, Pak. Karna kebaikanNya." Ucapnya.


"Tapi kok bisa nasi mereka nasi kuning ya, Bu?" Tanya Bu Rida.

"Iya, kok nasi kuning nasi hantu itu?" Ucap Bu Risma.

"Aneh ya, hantu nasinya nasi kuning." Ucap Bu Lelie.

"Gak ada nasi putihnya, Bu?" Tanya Bu Frida.

"Gak ada, Bu! Cuma nasi kuning semua." Jwb Bu Netty.


Masih menurut Bu Netty, katanya kalau dia mau makan nasi kuning pemberian makhluk halus itu, dia akan berubah jadi sama dgn mereka.

Itu dia tau dari pengakuan para makhluk halus tsb.

Dan itu pula yg membuat dia keukeuh gak mau makan.

"Untunglah gak Ibu makan!", ucap Sherly.


"Iya. Syukurlah gak mau Ibu makan itu!" Ucap Pak Anto.


Setelah beres di obati dan dikasih makan, Bu Netty pun diantar ke kampungnya.

Soalnya dia bukan warga kampung disitu.

Dia ditemukan di kampung berbeda yg msh satu kecamatan.

Keluarganya pun histeris menyambutnya.


Tangis haru dari para tetangga pun ikut menyambut kepulangan Bu Netty.

Tangisan Bu Artha, teman Bu Netty ngambil jamur pun pecah.

Dia menangis se-jadi2nya membayangkan kisah horor yg dialami Bu Netty ketika mereka ngambil jamur bareng.

Dia jg gak henti2nya merinding membayangkan waktu dia nyari2 dan manggil2 Bu Netty pada saat itu.

"Tambah ngeri rasanya stlh tau kalau Ibu sedang di culik sama hantu.

Aku msh lama disitu nyari2 Ibu. Kuliat sendal Ibu ngapung sebelah. Tapi sebelah lagi gak nampak." Ucapnya.


"Aku turun ke sungai dan celingak celinguk ke dlm semak.

Kirain Ibu entah BAB tau2nya gak jawab2." Ungkapnya.

"Apalagi kan waktu aku manggil2 tuh, gema suaraku bersahutan.

Jadi samar bedain ada yg nyahut apa gimana. Aduh, merinding!!" Ucapnya dgn mengelus tangannya.


"Udahlah! Aku gak mau lg ambil jamur kesana." Ucap Bu Artha.

"Pulang dr sana juga aku gak henti2nya merinding dan kaget2 dgn suara ntah apa2 di sepanjang jalan." Ungkapnya dgn bergetar.

"Padahal terang tempat itu ya!" Kata Bu Rere. 

"Iya!" Jwb Bu Artha.


"Ih, aku gak nyangka tempat itu ternyata angker juga." Ucap Bu Desy.


Bu Netty pun dirawat maksimal oleh keluarganya.

Karna seluruh tubuhnya penuh luka2 yg parah2. 

Udah pada infeksi, bernanah, dan berbelatung sebagian.

Untunglah jiwa dan rohnya msh bersama tubuhnya.


Gak di kampung yg tadi, gak di kampungnya sendiri, rata2 warga lbh penasaran dgn nasi kuning yg dikasih kunyit, yg konon menjadi makanan khas para makhluk halus atau hantu. 

"Dari mana mereka dapatin nasi itu?" Tanya yg lain.

"Eh ada lho ladang mereka!" Ucap Bu Netty.

"Mashaallah!" Ucap Bu Aisyah.

"Iya Bu, di samping pondok mereka itu ada hamparan padi yg menguning, ada jg yg msh hijau.

Banyak padi di lumbung mereka. Banyak beras dikarung goni.

Jadi mereka masak juga. Lengkap ada dapurnya. Rumahnya sngt besar." Jelasnya.


Di samping padi ada kebun kunyit yg sngt luas. Katanya nasi yg dikasih kunyit itu yg enak dan mereka gemari." Sambung Bu Netty.

"Dari mana Ibu tau itu nasinya kuning karna dikasih kunyit? Siapa tau karna bahan lain?" Tanya Pak Eslon.

"Mereka yg bilang, Pak!" Jwb Bu Netty.


"Makan nasi tok aja hantu itu, Bu? Atau ada jg lauknya?" Tanya Pak Simon.

"Kenya ada, Pak. Kayak daging ayam gulai kuliat. Tapi nasinya nasi kuning semua. Dan aroma kunyitnya sngt tajam.

Kenya banyak kali dikasih kunyitnya." Jwb Bu Netty.

"Ih seram!" Ucap Usman.


"Ih, dr mana pula mereka dapatin ayam.

Jagan2 ayam2 kita yg hilang itu mereka yg nyuri. Bukan elang!" Kata Sari.

"Di kolong rumahnya bnyk suara ayam juga, Dek." Ucap Bu Netty.

"Mereka miara ayam?" Tanya Sari terkejut. 

"Nampaknya iya. Rame suara ayamnya." Ungkap Bu Netty.

"Dan di sekitar rumah mereka itu ladang yg di olah semua.

Cuma aku herannya itu dimana.

Seingat aku, aku diseret di sungai, tiba2 sampai ke perkampungan mereka." Ungkap Bu Netty. 

"Itu secara gaib, Bu!" Ucap Pak Johnny.


"Jadi takut makan tumpeng!" Ucap Herty.

"Iya aku juga. Aku gak mau lg makan tumpeng." Ucap Rini.

"Eh, Nak Herty dan Nak Rini, bukan gitu. Nasi kuning itu gak salah.

Kita gak perlu takut makan itu." Ucap Pak Johnny.

"Tapi itu nasi hantu!" Kata Herty.

"Sssttt...!"


"Jaga mulut kau itu, Herty! Jgn asal ngomong kau!" Bentak mamanya ke Herty.

"Bukan gitu, Nak Herty. Nasi kuning itu bukan milik hantu.

Tapi merekalah yg niru2 kita manusia ini." Ucap Pak Johnny.

"Hantu ngefans ya Pak ke manusia. πŸ˜€." Ucap Rini dgn ketawa.


"Nah, itu lbh bijak!" Ucap Pak Johnny.

"Manusia lah yg duluan bikin nasi kuning barulah ditiru sama hantu!" Jelas Pak Johnny. 

"Jadi msh takut makan tumpeng?" Tanya Pak Johnny ke mereka berdua.

"Gak lagi Pak. Hehe." Jwb mereka barengan sambil mainin kuku.

"Nah, gitu!"


"Ih, nasi hantu katanya kebanyakan kunyitnya ditaruh. Apa gak pait. Hehe." Celoteh Rini.

Semua org yg ada disitu pun ketawa.

"Bagus jg selera humormu ya, Rin!" Ucap Pak Burhan.

"Makasih Pak Burung Hantu. Eh! Maaf, Pak. Maaf! Rini keceplos!" Ucap Rini menunduk.


Akhirnya semua ketawa sampai ter-bahak2.

"Anjimc!" Ucap Rio

"Mksdnya gini Pak, kita kan lagi bahas hantu. Ternyata Bapak burungnya. Gitu kan Rin?" Ucap Pak Willy selaku Kades di desa itu.

"Bukan, Pak!" Ucap Rini.

"Hantunya disana, burungnya disini." Celoteh Pak Ramli lagi.


"Kok jd ngomongin burung skrg.

Aku paling suka nih ngomongin burung! Semangat aku!" Ucap Bu Tari yg nota bene udah 15 thn menjanda itu sambil menghirup rokok ditangannya.

"Jadi burung siapa katanya, burung Pak Burhan?" Katanya dgn santuy dgn senyam senyum.

Bnyk org jd terdiam.


Bu Tari memang dikenal dgn ngomongnya yg ceplas ceplos dan asal njeplak.

Dia gak peduli lawan bicaranya siapa, dan dimana tempatnya.

Dia memang suka bergurau yg rada2 tabu. Dia suka bicara yg agak vulgar gitu.

Tapi semua udah memaklumi sifat Bu Tari tsb.


"Biar gak tegang! Biar rileks!" Ucap Bu Tari.

"Apanya yg tegang kak, jelas2lah." Ucap Pak Masri.

"Terserah kitalah Pak Masri. Haha!" Ucap Bu Tari.

"Burungnya mungkin!" Ucap Bu Tari melanjutkan.

Tapi gak ada lagi yg menjawab selain ketawa yg terdengar.


"Gak habis2 lagi bahas2 burung terus." Ucap Bu Heny.

"Udah marah Bu Heny woy. Udahlah stop bilang burung. Haha!" Ucap Bu Tari.

"Kembali ke lektop! Kita bahas nasi kuning lagi!" Ucap Bu Jonter.

"Kembali ke apa, Kak? Coba ulangi!" Kata Bu Tari.

"Kembali ke lektop!" Ucapnya.


"Lektop? Haha! Leptop, kak! Leptop. Cara nulisnya laptop. Bilangnya leptop.

Ingat kak, lep! Bukan lek! Haha!

Ada2 aja lawakan Kakak ini bah!" Ucap Bu Tari. 

"Samalah itu, namanya jg udah tua." Ucap Bu Jonter membela diri.

"Gak sama itu Kak e! Haha!" Ucap Bu Tari.


"Jadi kalau misalnya Ibu ini mau makan nasi kuning itu lgsg berubah jd hantulah Ibu ini ya! Jd bisa terbanglah!" Ucap Bu Tari.

Banyak org yg geleng2 kepala, karna ucapan itu seakan gak punya empati.

"Kira2 gitulah, tp bahasanya tolong di edit!" Ucap Bu Jenny.

-----------------


Jadi begitulah kisah mistis yg di alami Bu Netty yg menjadikan seluruh tubuhnya luka parah dan membusuk.

Hantu itu teramat kejam menyiksanya.

Mungkin waktu itu pikirannya lagi kosong sehingga mudah diganggu oleh makhluk2 halus itu.

Kita jg gak tau pastinya kenapa bs terjadi.


Gak bisa di pungkiri, bahwa hal yg paling menarik perhatian warga dgn kejadian ini adalah soal nasi kuning.

Entah mengapa jg hrs nasi kuning, bukan nasi biru, ijo, merah, atau hitam.

Kasus ini seakan membuka mata kita bahwa makhluk halus itu nyata keberadaannya.


Mungkin dunia gaib itu ada di sekitar kita. Misalnya di halaman rumah kita atau diladang kita.

Namun kita gak prnh tau karna kita beda alam. Hanya org2 tertentu aja yg bs mengalami hal2 gaib itu.

Intinya kita tetaplah mohon perlindunganNya sesuai kepercayaan kita masing2.


Aku tetap yakin, jika dari awal kita udah dlm lindunganNya, kita gak akan mengalami spt yg dialami oleh Bu Netty tsb.

Jangan prnh lengah, selalu ber-jaga2 dan tetap berdoa agar kita dijauhkan dari hal2 yg gak kita inginkan.

Terimakasih. πŸ™ 



-------oOO-------


Sumber : Thread di akun Twitter @ando_lan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

π™†π™€π™‰π˜Όπ™‹π˜Ό π™‡π™€π™ƒπ™€π™π™‰π™”π˜Ό π˜½π™€π™‚π™„π™π™?

TERNYATA ISTRIKU SELINGKUH DENGAN BAINAR

AKU SENGAJA PULANG KERUMAH PADA SAAT JAM KERJA